KAJEN - Pohon cengkeh milik petani di Kabupaten Pekalongan terserang virus secara masif. Hal tersebut membuat Pemkab Pekalongan mendatangkan para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) guna mencari penyebab dan penanganan virus yang menyerang tanaman cengkeh. Dan akhirnya penyebab matinya tanaman cengkeh di Kabupaten Pekalongan diketemukan.
Demikian disampaikan Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si saat meresmikan Mushola Al Mustaghitsin di Dukuh Wiyoro Desa Garungwiyoro Kecamatan Kandangserang, Sabtu (9/3/2019) siang.
Dipaparkan Bupati Asip Kholbihi virus menyerang karena daya tahan tanaman cengkeh menurun. "Menurut para peneliti virus menyerang tanaman cengkeh karena daya tahan tanaman menurun, hal tersebut diakibatkan karena tanaman jenuh terhadap pupuk kimia," katanya.
Bupati menerangkan solusi mengembalikan daya tahan tanaman cengkeh menghentikan pemupukan menggunakan kimia. "Saran dari peneliti para petani harus menggunakan pupuk kandang agar daya tahan tanaman terhadap virus kembali seperti semula," katanya.
Tidak berhenti dengan penelitian tentang pupuk, pihaknya menuturkan akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan pendapatan petani cengkeh. "Kami akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan produktivitas tanaman cengkeh, jika kondisi tanaman kembali seperti semula saya yakin petani cengkeh di Kabupaten Pekalongan akan sejahtera," tuturnya.
Selain tanaman cengkeh, Bupati Asip juga menyinggung tentang jumlah panen padi di daerah atas di Kota Santri. "Di Kabupaten Pekalongan daerah bawah 1 hektar sawah bisa panen 9 hingga 11 ton, tapi di daerah atas seperti Kandangserang hanya 5 ton. Untuk itu kami akan berikan bibit padi yang cocok ditanam di daerah atas agar hasil panen lebih melimpah," paparnya.
Kesejahteraan petani, ditambahkannya merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Pekalongan. "Kewajiban kami mensejahterakan petani, maka dari itu solusi terkait permasalahan pertanian terus kami cari dengan mendatangkan para peneliti," tambahnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Minggu, 10 Maret 2019
KAJEN – Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si bersama Anggota DPR RI dari Fraksi PKB Yaqut Cholil Qoumas hadir dalam kegiatan penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru IKM di Provinsi Jawa Tengah yang digelar oleh Kementerian Perindustrian RI, di Hotel Sahid Mandarin Kota Pekalongan, Senin (4/3/2019) pagi.
Khosim kepala Desa Trajumas menuturkan jalan penghubung desa belum pernah dirambah pembangunan bertahun-tahun. "Hampir lima tahun lebih jalan ini tidak diperbaiki, rusaknya jalan desa membuat aktivitas pendidikan, kesehatan dan perekonomian warga terganggu," jelasnya,
Pihaknya berharap Pemkab Pekalongan segera melakukan perbaikan di jalan penghubung Desa Trajumas. "Masyarakat desa sangat berharap jalan ini segera diperbaiki agar memudahkan aktivitas sehari-hari," paparnya.
Mendengar keluhan warga Desa Trajumas, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si meninjau jalan tersebut, Sabtu (9/3/2019) sore usai meresmikan Mushola Al Mustaghitsin di Dukuh Wiyoro Desa Garungwiyoro.
Dalam kunjungannya Bupati Asip membenarkan jalan tersebut tak tersentuh pembangunan lima tahun lebih. "Infrastruktur jalan memang rusak dan belum pernah diperbaiki lima tahun lebih. Dan tahun ini kami anggarkan Rp 1,6 miliar untuk perbaikannya," ujarnya.
Bupati Asip mengakui beberapa ruas jalan di Kecamatan Kandangserang belum sebaik daerah lain. "Masih ada beberapa ruas yang rusak, seperti jalan Sukoharjo-Trajumas, kemudian Sukoharjo-Garungwiyoro. Dan akan kami perbaikan secara bertahap, " jelasnya.
Diterangkannya panjang jalan kabupaten yang melintas di Kecamatan Kandangserang sekitar 61,5 kilometer, di mana jalan Desa Trajumas merupakan bagian dari jalan kabupaten tersebut.
"Visi dan misi kami akhir 2021 semua infrastruktur untuk kepentingan masyarakat bisa selesai dibangun, target tersebut akan terus kami kebut penyelesaiannya. Hingga kini sudah 81 persen capaian pembangunan infrastruktur di Kabupaten Pekalongan," tambahnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Minggu, 10 Maret 2019
Rabu, 6 Maret 2019
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Pekalongan, H. Anis Rosidi, S.Sos.,M.Si menjelaskan sosialisasi sengaja dikemas dalam pertunjukan wayang kulit.
"Wayang kulit merupakan ajang komunikasi masyarakat sekaligus budaya yang masih dilestarikan di Kabupaten Pekalongan," katanya, Rabu (6/3/2019) malam.
Maka dari itu, dipaparkan Anis wayang kulit dipilih untuk mensosialisasikan tentang penurunan stunting dan prilakunya hidup bersih dan sehat. "Jadi selain sosialisasi tentang hidup bersih dan sehat, ada nilai-nilai dalam cerita wayang yang bisa lebih digali dan mudah dipahami oleh masyarakat," ujarnya.
Sementara itu Asisten Pemerintahan dan Kesra, Drs. Ali Riza, M.Si menjelaskan budaya menjadi program prioritas Kabupaten Pekalongan. "Selain memberi pemahaman tentang hidup bersih dan sehat, budaya warisan leluhur yaitu wayang kulit tetap bisa lestari," katanya.
Ali menambahkan beberapa program terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sudah diterapkan oleh Pemkab Pekalongan. "Kami terus mendorong agar masyarakat menerapkan PHBS, dan beberapa program seperti bersih Jumat pagi, Gerakan Masyarakat Stop Kematian Ibu dan Balita (Gemasetya), dan Gerakan Gotong Royong hidup bersih (Gentong Hebat) sudah dijalankan dan akan terus kami giatkan," tambahnya.(didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : arif
Rabu, 6 Maret 2019
Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si menjelaskan sejak dilanda banjir rob, lahan pertanian beralih fungsi menjadi tambak. "Sebelum dilanda banjir rob dua desa tersebut merupakan daerah subur, dan hasil pertanian menjadi satu di antara hasil pertanian unggulan," paparnya saat mengunjungi tanggul penahan banjir rob di Kecamatan Tirto, Selasa (5/3/2019) siang.
Selasa, 5 Maret 2019
Demikian disampaikan Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si saat Rapat Koordinasi (Rakor) Kegiatan Pengendalian Banjir dan Rob Kabupaten Pekalongan, di ruang rapat Bupati, Selasa (5/3/2019) pagi.
Bupati menuturkan teknologi penanganan banjir rob berupa tanggul raksasa senilai Rp 500 miliar lebih kini tengah diselesaikan. "Sistem tersebut diadopsi dari Rotterdam Belanda, kami pun hingga kini terus melakukan koordinasi dengan Rotterdam University terkait penanganan banjir rob," tuturnya.
Teknologi penanganan banjir rob dari Belanda dipaparkan Bupati Asip, membuat tanggul raksasa manjadi multifungsi. "Karena ditengah tanggul nantinya akan ada parit sepanjang 10 kilometer, yang bisa digunakan sebagai obyek wisata serta sarana olah raga dayung," katanya.
Namun pemanfaatan parit tersebut akan dilakukan secara bertahap, karena Pemkab fokus pada penanganan banjir rob terlebih dahulu. "Pembangunan tanggul raksasa direncanakan selesai akhir 2019, dan akan ada pompa untuk menyedot air jika air meluap dari sungai serta air laut naik," paparnya.
Selain fokus pada penanganan banjir rob Asip menerangkan, akan melakukan evaluasi secara komprehensif terkait dampak sosial karena adanya tanggul. "Karena sungai akan tertutup jika tanggul selesai, dan ada 260 perahu milik nelayan yang bersandar di Sungai Mrican, Tratebang dan Meduri," imbuhnya.
Untuk itu Pemkab akan membangun tambatan perahu agar perekonomian nelayan tidak terganggu. "Kami berharap adanya tanggul bisa mengurangi dampak banjir rob di pesisir Kabupaten Pekalongan, serta adanya tambatan perahu bisa mengatasi dampak sosial karena pembangunan penahan banjir rob tersebut," tambahnya.
Rakor dihadiri dari pihak Pemkab Pekalongan antara lain Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti, Asisten Pemerintahan dan Kesra Drs. Ali Riza, M.Si, beserta para Kepala OPD dan Camat terkait. Dan dari pihak pengelola dan pelaksana proyek antara lain Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana – Ir. H. Ruhban Ruzziyatno, MT beserta jajaran.(didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Selasa, 5 Maret 2019
Senin, 4 Maret 2019
Bupati dalam sambutannya mengungkapkan pihaknya senantiasa mendorong para pemuda untuk kreatif, terutama dalam hal pengelolaan pariwisata di Kota Santri. "Dulu Petungkriyono itu dalam konteks pariwisata pendapatannya nol rupiah. Dua tahun terakhir, pemerintah mendorong pemuda ikut pelatihan tata kelola pariwisata. Alhamdulillah sekarang pemasukannya sudah mencapai Rp 5 miliar," ujarnya.
Lebih lanjut Bupati mengatakan, ada tiga sumber daya yang apabila digerakkan secara maksimal akan memiliki dampak luar biasa. Ketiga sumber daya tersebut, kata bupati adalah sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya sosial. Menurutnya, SDM dan SDA mungkin banyak yang memiliki, tapi sumber daya sosial Kabupaten Pekalongan masih banyak memilikinya.
"Di Kabupaten Pekalongan masih banyak ditemui anak muda yang menghormati orang tua, dan orang tua mencintai anak muda. Ini adalah modal sosial yang tidak ternilai dan bisa menjadi modal untuk pengembangan pariwisata di Kabupaten Pekalongan, " ujarnya.
"Memang persoalan SDM masih menjadi masalah utama. Namun apabila kita memberdayakan apa yang kita miliki serta secara terus-menerus mengasah diri dan bekerjasama dengan pihak lain tentu akan membawa hasil positif," sambung bupati.
Sementara itu, anggota DPR RI dari Fraksi PKB Yaqut Cholil Qoumas menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi kalangan pemuda.
Menurutnya, mengapa kemandirian ekonomi bagi kalangan pemuda menjadi sesuatu yang penting. Sebab, kata Anggota Komisi VI DPR RI yang juga Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor tersebut berdasarkan tinjauannya keliling di Indonesia selama memimpin organisasi pemuda Ansor NU, dia menemukan mengapa para pemuda tergiur dan terpengaruh oleh kelompok yang hendak bercita-cita mengganti ideologi bangsa. Hal demikian disebabkan salah satunya adalah persoalan ekonomi.
Untuk itu, lanjut dia, dengan adanya kegiatan ini dimana para pemuda dilatih diberi bimbingan teknis tentang keterampilan yang harapannya bisa menjadi wirausaha baru di Jawa Tengah ini bisa menjadi sarana memandirikan ekonomi para pemuda. "Kunci kemajuan adalah kemandirian ekonomi," tandas dia.
Pada kesempatan itu, pihaknya juga menyampaikan, saat ini tengah terjadi perubahan dalam cara menjalankan bisnis. Apabila, kata dia, dulu bisnis adalah kompetisi, saat ini bisnis merupakan kolaborasi. "Di sini (peserta) banyak kelompok bisnis, seperti kopi, gula aren, makanan ringan, bengkel sepeda motor, servis ponsel. Mereka semestinya bisa saling berkolaborasi saling membesarkan," katanya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Senin, 4 Maret 2019
Sabtu, 2 Maret 2019