Kamis, 22 Agustus 2019
KAJEN - Sebanyak 150 grup drumband yang terdiri dari 55 grup drumband TK/RA, 70 grup SD/MI dan 25 grup dari SMP/MTs, dengan antusias mengikuti Kajen Gemuruh Ke-6 Tahun 2019 dari awal hingga akhir waktu pelaksanaan di Alun-Alun Kajen, Selasa (20/8/2019) siang.
Dengan dipandu oleh seorang Mayoret utama, mereka secara bersama-sama melantunkan lagu-lagu nasional yakni Garuda Pancasila, Hari Merdeka dan Maju Tak Gentar. Disaksikan ribuan warga masyarakat Kajen dan sekitarnya yang memadati Alun-Alun Kajen.
KAJEN - Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan diskriminasi perbedaan melalui SARA karena semua adalah makhluk ciptaan Allah SWT.
Demikian disampaikannya dalam Acara Malam Keakraban Paguyuban Ibu-Ibu Kedungwuni dengan tema “Merajut Persahabatan Dalam Membina Kebhinekaan” di Gedung eks Kawedanan Kedungwuni, Minggu (18/8/2019) malam.
Kajen Gemuruh ke-6 dibuka Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti. Dihadiri suami Wakil Bupati yang notabene adalah mantan Bupati Pekalongan 2 periode yaitu Drs. H. Amat Antono, M.S.i. Hadir pula Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf. Arfan Johan Wihananto, S.IP.,MMS., beserta istri, Ketua Pengadilan Agama Kajen H. Suwoto, SH.,MH., Ketua Pengadilan Negeri Pekalongan Sutaji, ., Ketua Kementerian Agama Kasiman Mahmud Desky, M.Ag, perwakilan Kejari Kajen dan para Perwakilan OPD Kabupaten Pekalongan.
Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti mengatakan, pelaksanaan Kajen Gemuruh sebagai salah satu rangkaian peringatan ke-74 Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan. Ia berharap untuk tahun-tahun berikutnya agar dilakukan inovasi, seperti diadakan lomba bagi peserta.
Wakil Bupati menambahkan, dirinya senang sekali dengan adanya Kajen Gemuruh, karena mereka berasal dari penjuru Kabupaten Pekalongan dengan seragam yang beraneka namun secara bersama-sama memainkan alunan yang sama, hal itu merupakan salah satu bukti adanya semangat persatuan.
"Tahun depan saya harap kegiatan ini dapat dilombakan, sehingga tambah menarik dan mereka datang ke sini tidak hanya memainkan tiga lagu dan panitia menyediakan hadiah menarik bagi yang berprestasi,” kata Arini.
Tidak lupa Wakil Bupati mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah mengikuti acara Kajen Gemuruh. Menurutnya kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai acara rutinan Pemkab Pekalongan saja akan tetapi adalah upaya untuk mewujudkan persatuan.
“Negara Indonesia adalah negara besar yang mempunyai potensi budaya yang besar dengan kemajemukan dan pluralitas masyarakatnya, untuk itu perlu dipupuk dan dilestarikan salah satunya dengan kegiatan Kajen Gemuruh ini,” terangnya.
Sementara itu Ketua Panitia Peringatan ke-74 Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan, Dra. Ali Riza, M.Si mengatakan, Kajen Gemuruh tahun 2019 merupakan tahun ke 6 pelaksanaan, dengan maksud untuk memberikan ruang ekspresi bagi grup drumband yang ada di Kabupaten Pekalongan. (didik /dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Selasa, 20 Agustus 2019
Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si dalam acara “Suluk Bumi Santri”. Acara dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08/2019) malam.
“Pembangunan manusia lahir dan batin. Batin manusia diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Kabupaten Pekalongan, ” ujar Bupati.
Dengan kata lain, lanjut Bupati, unsur-unsur yang merupakan materi/bahan pembangunan tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat sendiri.
“Melihat permasalahan-permasalahan yang ada saat ini, tokoh masyarakat, budayawan, dan ormas harus dapat bermitra dengan pemerintah daerah untuk menempatkan budaya sebagai ujung tombak dalam menjaga persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, jelas Bupati
“Lesbumi mempunyai potensi besar untuk berperan serta dalam pengembangan dan pelestarian nilai budaya. Dikarenakan memiliki aktivitas yang mengakar di masyarakat luas. Sehingga secara otomatis dapat merasakan getaran-getaran riil yang terjadi di masyarakat utamanya dalam memajukan kebudayaan, melestarikan tradisi, dan mengembangkan adat budaya masyarakat,” imbuhnyai.
Sementara itu, Gus Eko Ahmadi, Ketua Lesbumi PCNU Kab Pekalongan menyampaikan bahwa Kabupaten Pekalongan merupakan daerah dengan berbagai kearifan lokal yang telah eksis dengan seni dan kebudayaannya. Keragaman perilaku budaya dan lokal wisdom yang beragam menjadikan seni dan budaya Kabupaten Pekalongan yang unik menjadi menarik untuk dipelajari.
Dituturkan Gus Eko, sebagai kabupaten yang besar dengan keanekaragaman budaya yang menjadi identitas, sehingga diperlukan pemahaman seni dan budaya sebagai nilai dasar ketahanan nasional, serta sebagai pemersatu keragaman seni dan budaya bangsa.
“Seni dan budaya di Kabupaten Pekalongan menjadi pemersatu apabila kita memiliki rasa bangga terhadap seni dan budaya yang kita miliki,” katanya.
Acara yang dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08) itu dimulai dari pagi hari hingga malam yaitu sepeda santai, senam aerobik, karnaval budaya. Selanjutnya pada siang harinya pentas seni komunitas band, drumband, tari kreasi nusantara dilanjutkan sore sampai malam hadroh sholawat, tari kipas, tari dendang kota santri, pencak silat tapak suci dan sintren serta sarasehan.
Saat sarasehan, Gus Eko menjelaskan bahwa, berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia umumnya dan Kabupaten Pekalongan khususnya ini sangatlah kompleks. Salah satunya karena lemahnya pemahaman nilai-nilai seni dan budaya yang terkandung di dalam pembangunan itu seperti budaya ramah tamah, gotong royong, musyawarah mufakat sudah luntur dan tergeser.
“Bahkan ada sebagian yang mulai menghilang oleh derasnya laju globalisasi, dan masuknya budaya luar yang telah merusak moral dan etika yang akhirnya menimbulkan degradasi budaya,” paparnya.
Menurut Gus Eko, upaya pengembangan dan pelestarian budaya daerah dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah khususnya bidang kebudayaan.(red)
Publisher : aris
Minggu, 18 Agustus 2019
Dalam kesempatan tersebut hadir Istri Bupati Pekalongan Dra. Hj. Munafah, Kepala Dinperindagkop, Muspika Kedungwuni, Ketua Paguyuban Tionghoa, Ibu-Ibu pedagang pasar kedungwuni dan ibu-ibu Kelurahan Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni.
Bupati menambahkan, kegiatan tersebut adalah bentuk ikhtiar untuk saling menghargai antar sesama, ukhuwah basyariyah, tepo seliro saling menghargai antar sesama. ”Saya berharap memfasilitasi kegiatan mengumpulkan warga, kalau ada perbedaan kita rembug, rukun adalah modal utama, untuk ibadah dan beraktifitas,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asip juga mengajak kepada warga Kedungwuni untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan. ” Tujuan kita bersatu adalah guyub rukun untuk tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera dan tugas kita tinggal memupuk dan mempersatukan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan,” terangnya.
Bupati mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi paguyuban ibu-ibu Kedungwuni. Menurutnya, berbagai elemen dapat hadir dalam acara peringatan HUT RI ke 74 dalam rangka merajut kebhinekaan. “Keguyuban masyarakat ini tidak hanya dalam rangka 17 an, akan tetapi bisa dilaksanakan kegiatan yang lain misalnya ibu-ibu urunan untuk gerakan bedah rumah nanti bupati dan pemerintah daerah yang memotori,” harap bupati.(didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Minggu, 18 Agustus 2019
Minggu, 18 Agustus 2019
Sabtu, 17 Agustus 2019
Sabtu, 17 Agustus 2019
Upacara Detik-Detik Proklamasi dihadiri oleh Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti, Forkopimda, Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM., beserta para Asisten, para Staf Ahli Bupati, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat dan Kades/Kepala Kelurahan se Kabupaten Pekalongan, para Veteran, perwakilan organisasi masyarakat se Kabupaten Pekalongan, instansi vertikal, BUMN/BUMD. Dan diikuti ribuan peserta upacara yang terdiri dari perwakilan TNI, Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), mahasiswa, pelajar, organisasi masyarakat.
Dalam Upacara Detik-Detik Proklamasi ke-74, Bupati Pekalongan membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Gubernur dalam sambutan tertulisnya mengungkapkan, dalam masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama atau pun ras. Tak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya atau pun miskin. Semua sama di mata negara. Founding fathers bangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekadar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakkan kemerdekaan.
“Sebenarnya kita pun mewarisi semangat itu. Namun karena kadang kita memupuk borok dalam dada, membuat kita terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca, bahkan ada nekat hendak mengganti Pancasila,” katanya.
Gubernur Ganjar menambahkan, Bangsa Cina dan India telah bergerak menuju Bulan, bangsa Amerika telah bersiap membangun perumahan di Mars. Meski saat ini kita belum mampu, jangan biarkan anak-anak kita hanya jadi penonton atas keberhasilan bangsa lain.
“Kita siapkan mereka saat ini, kita bekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan semangat toleran, agar mereka juga bisa sampai ke Bulan, ke Mars, dan anak-anak Galaksi lain,” katanya.
Sementara itu, ditemui seusai upacara, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si mengatakan, dalam momentum HUT RI ke-74 ini, masyarakat diajak untuk kembali menggelorakan gotong-royong sebagai ruh pembangunan.
“Gotong-royong akan kita upayakan di semua lini seperti di sektor kebersihan, RTLH dan pendirian sarana ibadah serta bidang-bidang lain,” tutur Asip.
Bupati KH. Asip berpesan, agar semua elemen masyarakat mempersiapkan diri di era globalisasi dengan tidak hanya mengikuti saja, akan tetapi menjadi bagian integral sehingga tidak kalah dengan negara lain.
“Kita siapkan beasiswa untuk melengkapi skema beasiswa yang telah diberikan oleh Pusat dan Propinsi, selain itu wajib belajar 12 tahun akan kita deklarasikan sebagai jaminan pembangunan di bidang Sumber Daya Manusia seperti tema HUT RI kali ini yakni SDM Unggul Negara Maju,” terangnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : aris
Sabtu, 17 Agustus 2019
Peserta upacara yang terdiri dari berbagai unsur antara lain, TNI, Polri, Aparatus Sipil Negara, beserta instansi pemerintah lainnya, pelajar, mahasiswa, organisasi masyarakat se Kabupaten Pekalongan tampak berbaris rapi tidak bergeming seolah tidak merasakan teriknya panas matahari.
Proses pengibaran bendera merah putih dan pembacaan teks proklamasi pun berjalan lancar tanpa hambatan. Dan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten Pekalongan sukses mengibarkan bendera pusaka merah putih.
Setelah menerima bendera pusaka merah putih dari Bupati KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si yang bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup), pembawa baki bendera asal Kecamatan Kandangserang atas nama Ajit Rejeki Apriliani (16) dari SMAN 1 Kandangserang beserta rekan-rekannya dengan lancar tanpa hambatan mengantarkan sangsaka merah putih dari pengibaran bendera hingga bendera sampai di puncak tiang bendera.
Memaknai momen peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi meminta segenap generasi bangsa mengenang jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
Menurut Bupati, pahlawan adalah sosok penting dibalik kemerdekaan, karena telah mengorbankan jiwa dan raga serta segala yang dimilikinya demi memperjuangkan kemerdekaan yang saat ini dinikmati oleh generasi penerus. "Selaku generasi penerus, mari kita bersama-sama memaknai dan mengisi kemerdekaan ini," kata Bupati usai upacara.
Bupati Asip mengungkapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang dibangun atas dasar kebersamaan, persatuan, dan gotong-royong. "Tadi saya menggaris bawahi sambutan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahwa gotong-royong itu gerakan kita. Oleh karena itu, Jawa Tengah sebagai benteng Pancasila dan Kabupaten Pekalongan termasuk didalamnya maka gerakan-gerakan gotong royong menjadi daya dukung pembangunan. Maka, kita akan upayakan terus," ungkapnya.
Menurut Bupati Asip, melalui pelaksanaan pembangunan seperti saat ini, merupakan satu diantara upaya dari generasi penerus untuk memaknai dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia 74 tahun silam.
"Untuk melaksanakan kegiatan pembangunan, dibutuhkan sinergitas dari seluruh komponen masyarakat. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya diserahkan kepada satu pihak saja, seperti Pemerintah Daerah," tambahnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Publisher : arif
Sabtu, 17 Agustus 2019