Admin
Kamis, 26 Mei 2022


KAJEN - Penanganan kasus Kondisi gagal tumbuh pada anak-anak akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya atau disebut Stunting menjadi salah satu fokus kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan. Berbagai upaya dilakukan untuk mendukung upaya Pemerintah Pusat menurunkan angka stunting sebesar 14% pada tahun 2024.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, melalui Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Pekalongan (PERSAGI ) terus melakukan sosialisasi sebagai upaya untuk menurunkan angka Stunting di Kota Santri.
Seperti yang disampaikan Marita Lusiana, AMG., anggota PERSAGI Kabupaten Pekalongan mengatakan, sesuai Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 untuk permasalahan kekurangan gizi di Indonesia yakni 10,2 % bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2500 gram), 19,6 % balita di Indonesia memiliki berat badan yang tidak sesuai dengan usianya, 37,2% balita di Indonesia memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya.
Kemudian, berdasarkan Laporan Global Nutrition Report 2014 bahwa Indonesia termasuk dalam 17 Negara dengan 3 masalah gizi terjelek, diantara 117 negara-negara di dunia. "Ada 11,9 % balita dengan berat badan kurang, 37,2 % balita pendek, 12,1 % balita kurus, 28,9 % kegemukan pada penduduk lebih dari 18 tahun. Dimana kondisi pertumbuhan pendek dan kurus pada balita tersebut bisa menghambat kemampuan kognitif (intelegensia) dan motorik anak," terang Marita.
Marita mengaku telah melakukan beberapa upaya untuk menekan kasus stunting tersebut. Salah satunya dengan bersinergi bersama lintas sektor yakni antara Dinas Kesehatan, Pemerintah, para stakeholder terkait dan masyarakat, membentuk 10 Desa Lokasi Fokus Stunting (Lokus Stunting) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan. Dengan kegiatannya seperti Rembug Stunting, Aksi Konfergensi Stunting, Pembentukan Kampung Gizi, dan lainnya.
Marita menambahkan dalam penanganan kasus stunting ini, pihaknya juga memberdayakan keberadaan kader posyandu, memberikan tablet tambah darah untuk remaja di sekolah-sekolah, memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. "Stunting harus dicegah sejak dini karena untuk kedepan nanti bisa berakibat pada SDM rendah, Karena kemampuan kognitif rendah. Jadi target kita saat ini yang paling awal adalah pendataan. Sebisa mungkin kita validasi apakah data stunting yang kita peroleh sudah benar. Kalo sudah benar kita release datanya jumlahnya. dan dari pemerintah atau Dinas terkait nanti bisa menyelenggarakan program-program terkait untuk pencegahan stunting, terutama untuk beberapa aksi konvergensi pencegahan stunting itu sendiri," ungkap Marita.
Marita berharap Kedepan Prosentase angka Stunting di Kabupaten Pekalongan kurang dari 14 % sesuai dengan target yang ditentukan. (Dian- Kominfo)