Admin
Jumat, 17 April 2026


KEDUNGWUNI - Upaya pelestarian seni tradisional kembali digaungkan dari Kabupaten Pekalongan. Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PKB, Sumarwati, mendorong kolaborasi seni rebana dengan musik modern agar tetap relevan di tengah perubahan selera generasi muda.
Gagasan itu disampaikan dalam talkshow media tradisional yang digelar bertepatan dengan peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU dan halal bihalal di Aula Gedung PCNU Kabupaten Pekalongan, Sabtu (18/4/2026). Forum ini menjadi panggung strategis untuk membahas peran budaya dalam mendukung kebijakan publik berbasis kearifan lokal.
Sumarwati menegaskan, seni rebana bukan sekadar hiburan, melainkan simbol identitas budaya sekaligus religiositas masyarakat, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Karena itu, pelestariannya tidak bisa hanya bersifat seremonial, tetapi harus adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kegiatan ini kita sinergikan dengan momentum harlah Muslimat NU dan halal bihalal, sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas kebijakan publik melalui media tradisional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kekuatan Muslimat NU di Kabupaten Pekalongan terletak pada jaringan akar rumput yang masif. Tercatat sekitar 330 ranting tersebar di 19 kecamatan, menjadikan organisasi ini sebagai motor penggerak tradisi, termasuk rebana, yang rutin ditampilkan dalam setiap pertemuan.
“Setiap kali ada pertemuan, mereka selalu tampil dengan rebananya. Ini sudah menjadi tradisi yang harus kita rawat dan kembangkan,” tegasnya.
Namun di tengah arus modernisasi, Sumarwati melihat adanya tantangan serius: regenerasi minat. Ia menilai, tanpa inovasi, seni rebana berpotensi ditinggalkan generasi muda. Karena itu, ia mendorong langkah konkret berupa kolaborasi dengan alat musik modern tanpa menghilangkan nilai religius yang melekat.
“Kita dorong agar rebana bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern yang disenangi anak-anak muda, tetapi tetap tidak menghilangkan nilai religiusnya,” tambahnya.
Sebagai bentuk penguatan, pihaknya juga berencana menggelar lomba rebana antar-PAC. Agenda ini diharapkan mampu memicu kreativitas sekaligus memperluas ruang ekspresi bagi pelaku seni di tingkat lokal.
Di sisi lain, Sumarwati mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai konsisten dalam menjaga keberlanjutan budaya tradisional melalui berbagai kebijakan. Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan pelestarian tetap bergantung pada kolaborasi lintas sektor, termasuk komunitas dan generasi muda.
Tingginya animo peserta talkshow menjadi sinyal kuat bahwa isu ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Diskusi berlangsung dinamis, bahkan waktu yang tersedia tidak mampu menampung seluruh pertanyaan yang diajukan.
“Antusiasme peserta luar biasa, waktunya sampai tidak cukup karena banyak yang ingin bertanya. Ini menunjukkan kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan,” ungkapnya.
Sumarwati berharap, forum serupa terus digelar secara berkelanjutan dengan menghadirkan narasumber beragam agar perspektif yang dibangun semakin kaya. Ia menegaskan, pelestarian rebana bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga memastikan warisan budaya tetap hidup dan dicintai lintas generasi.
“Seni rebana jangan sampai hilang. Justru harus kita tanamkan agar menjadi warisan generasi muda dan semakin dicintai,” pungkasnya.