

| PENGGUNAAN TIK DALAM UPAYA MENGURANGI KEMISKINAN |
| [ Sabtu, 06 Pebruari 2010 ] | |
|
Memanfaatkan TIK untuk Mengurangi Kemiskinan Masalah penting yang harus dipahami semua pihak terkait dalam menerapkan TIK untuk mengurangi kemiskinan adalah bahwa informasi di kesebelas bidang kegiatan TIK harus disebarkan sesuai dengan kebutuhan setempat dan dapat dimanfaatkan kalangan miskin di Indonesia. Dalam berbagai survei tentang pemakai dan penyedia jasa Internet di berbagai negara berkembang selalu terungkap temuan yang sama, yaitu: pemakaian bahasa asing dan isi yang tidak relevan untuk kepentingan lokal mengurangi minat pemakai Internet, sehingga menghambat penyebarluasan informasi. Jika tidak ada upaya terpadu untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, perkembangan Internet di Indonesia akan mengalami kemacetan. Kurangnya muatan lokal berorientasi peduli kemiskinan mengurangi peminat setempat. Ada sebelas bidang kegiatan dalam rangka upaya mengurangi kemiskinan yang dapat dioptimalkan hasilnya dengan melibatkan TIK, seperti diuraikan di bawah ini : Bidang # 1: Memberdayakan Masyarakat yang Kurang Beruntung dan Terpinggirkan Dalam masyarakat miskin, kelompok yang kurang beruntung dan yang terpinggirkan biasanya mengalami kendala dalam menggunakan dan memanfaatkan TIK, sama seperti kesulitan yang mereka alami dalam memperoleh dan memanfaatkan sumber-sumber daya lainnya. Kaum perempuan di negara berkembang cenderung lebih miskin, mengalami kendala sosial lebih besar, dan kurang berpendidikan daripada kaum prianya. Kaum perempuan sangat mungkin akan memanfaatkan TIK secara berbeda dan membutuhkan informasi yang berbeda daripada kaum prianya. Kelompok-kelompok seperti itu memerlukan perhatian dan bantuan khusus agar dapat menikmati program-program yang dikemas untuk kalangan miskin. Orang-orang yang tidak memahami bahasa Inggris juga menjadi kelompok yang terpinggirkan dalam jaringan Internet. Bahkan mereka yang memiliki dan menguasai dasar-dasar bahasa Inggris tetap kesulitan membuka situs-situs jaringan, yang hanya menggunakan bahasa Inggris. Penghimpunan, pengelompokan, perlindungan, dan komersialisasi keahlian setempat telah menjadi fokus kegiatan suatu kelompok minoritas tertentu yang menggunakan TIK. Cara-cara pengobatan-pengobatan tradisional telah direkam dalam bank data dan dilindungi pemerintah dari usaha permintaan hak paten oleh pihak asing. Tingginya nilai langkah-langkah demikian dibuktikan oleh pemberlakuan peraturan ketat oleh pemerintah negara bagian Sarawak, Malaysia (di Kalimantan) terhadap pengoleksian sampel-sampel tetumbuhan dari rimba hutan-hujan-tropis, yang memiliki spesies-spesies tertentu yang diduga kuat dapat menghasilkan substansi yang dapat digunakan untuk membasmi HIV/AIDS. Dari 500 juta penderita cacad, 80%-nya hidup di negara berkembang. Biasanya, penderitaan yang mereka pikul hanya menambah kesengsaraan yang sudah mereka hadapi (mungkin, kemiskinan) sebagai warga negara berkembang. Akan tetapi, seperti halnya penduduk yang hidup di daerah terpencil dan terisolasi, mereka relatif berpeluang lebih besar karena akan dapat memanfaatkan TIK. Langkah-langkah untuk menyediakan akses TIK bagi para penderita cacad sedang dilakukan. Salah satunya adalah membangun teknologi adaptif—persyaratan utama bagi sebagian besar penderita cacad agar dapat menggunakan teknologi komputer—yaitu memodifikasi atau meningkatkan kemampuan piranti lunak dan piranti keras komputer yang menyediakan kemungkinan alternatif untuk memasukkan atau menerima data. Modifikasi-modifikasi demikian banyak yang dapat dilakukan dengan biaya yang relatif sedikit. Bidang # 2: Mendorong Usaha Mikro TIK ternyata berdampak pada strategi kehidupan para pengusaha kecil dan pengusaha lokal dalam memperoleh modal dari kategori-kategori berikut: • Modal dasar: kesempatan mengakses kebijakan-kebijakan pemerintah. • Modal keuangan (Financial Capital): komunikasi dengan pihak-pihak pemberi dana, misalnya kredit mikro (microcredit). • Modal sumber daya manusia (Human Capital): penambahan pengetahuan melalui proses-proses dan belajaran jarak-jauh yang diperlukan untuk sertifikasi/izin usaha. • Modal sosial (Social Capital): menjalin hubungan keluar komunitasnya sendiri. • Modal yang bersifat fisikal (Physical Capital): pendekatan-pendekatan untuk pengadaan bahan dasar infrastruktur. TIK dan e-commerce menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengusaha wanita (yang di banyak negara berkembang merupakan pelaku pasar terbanyak di bidang usaha kecil dan menengah), karena dapat menghemat waktu dan uang sambil meraih pelanggan baru di pasar domestik dan internasional. Kisah-kisah sukses dalam usaha business-to-consumer (B2C) atau e-retailing diperoleh dari semua wilayah negara berkembang, yang membuktikan betapa para wanita telah memanfaatkan Internet untuk memperluas basis pelanggan mereka di pasaran luar, mampu menggabungkan tugas-tugas rumah tangga dengan usaha dagang yang lancar. Akan tetapi, sekalipun e-retailing mendapat sorotan positif, jangkauan dan penyebarannya di bagian-bagian dunia miskin masih kecil, terutama para wanita yang bekerja di usaha-mikro dan sektor informal masih jauh dari jangkauan teknologi-teknologi yang baru. Selain itu, B2C masih kecil dibandingkan dengan niaga business-to-business (B2B) atau e-commerce, sehingga hanya menguntungkan segelintir wanita. Bidang # 3: Meningkatkan Layanan Informasi Kesehatan Jarak Jauh (telemedicine) Kesehatan merupakan salah satu bidang yang paling menjanjikan untuk ditingkatkan dengan bantuan TIK dalam upaya mengurangi kemiskinan, karena bidang tersebut memerlukan TIK untuk informasi dan pemahamannya. Ada banyak cara menerapkan TIK untuk memperoleh hasil yang diinginkan di bidang kesehatan. TIK digunakan di negaranegara berkembang untuk memfasilitasi konsultasi, diagnosis, dan pengobatan jarak jauh. Para dokter di tempat-tempat terpencil dapat memanfaatkan TIK untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman profesional sejawatnya di lembaga rujukan di perkotaan. Pekerja-pekerja kesehatan di negara berkembang mengakses pelatihan medis yang relevan melalui mekanisme yang dimungkinkan oleh TIK. Beberapa situs baru di Internet mengenai malaria digunakan pakar kesehatan untuk menyebarluaskan modul-modul “ajar dan uji” (“teach and test”) yang inovatif untuk mengukur kesehatan sendiri. Bank data terpadu yang dihubungkan jaringan TIK memungkinkan para pekerja kesehatan mengikuti perkembangan yang melaju pesat di bidang kesehatan. Media umum—seperti radio dan televisi—mempunyai sejarah panjang sebagai penyiar efektif penyebarluasan berita-berita kesehatan masyarakat dan teknik-teknik pencegahan penyakit di negaranegara berkembang. Internet juga dapat digunakan untuk memperbaiki upaya pencegahan penyakit dengan memfasilitasi mekanisme pemantauan dan respons yang lebih efektif. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan penerbit enam majalah kedokteran terbesar di dunia menyediakan akses untuk informasi ilmiah yang penting kepada hampir 100 negara berkembang yang sebelumnya tidak terjangkau. Sistem tersebut memungkinkan hampir 1.000 majalah kedokteran dan ilmiah dapat dibaca oleh fakultas-fakultas kedokteran dan lembaga-lembaga penelitian di negara-negara berkembang melalui Internet secara gratis atau dengan biaya yang sangat minim. Bidang # 4: Memperbaiki Pendidikan Melalui e-Learning dan Pembelajaran Seumur Hidup Pertumbuhan pembelajaran jarak jauh dipicu oleh kebutuhan negara-negara miskin untuk merapatkan kesenjangan pendidikan terhadap negara-negara kaya. Menurut UNESCO, hanya 3% anak muda-usia di kawasan Sub-Sahara Afrika dan 7% di kawasan Asia mengikuti salah satu bentuk pendidikan menengah yang ada. Bandingkan data itu dengan 58% di negara maju secara keseluruhan, dan 81% di Amerika Serikat. Negara-negara berkembang memandang investasi ke dalam program-program jarak jauh sebagai cara untuk menyekolahkan anak dalam jumlah yang lebih banyak, tetapi dengan biaya yang lebih sedikit. UNESCO dan Bank Dunia melaporkan bahwa di 10 lembaga pendidikan jarak jauh di dunia—kebanyakan berada di Dunia Ketiga—rata-rata biaya sekolah tiap anak hanyalah sepertiga dari biaya sekolah biasa di negara yang sama. Pembelajaran jarak jauh tampaknya menjadi perintis bagi e-learning, tetapi keduanya tidaklah sama, dan transisi dari bentuk yang pertama ke bentuk yang berikutnya cukup menantang. Antusiasme awal yang menyambut gagasan universitas maya (virtual university) tidak diikuti langkah perintisannya, tetapi program-program terakreditasi yang sepenuhnya dapat diikuti melalui jaringan internet tetap ada dan bertambah dengan cepat. Sebagian dari kesulitan yang menghadang timbul dari pemahaman yang lamban tentang peran yang disumbangkan TIK pada segi-segi pendidikan dalam proses belajar-mengajar. Misalnya, dalam lingkungan tradisional, kegiatan belajar paling banyak terjadi di luar kelas, sehingga upaya-upaya untuk menggunakan TIK sebagai pengganti ruang kelas tidak dapat memberikan pengalaman belajar seutuhnya kepada para murid. Penghambat lainnya bagi e-learning adalah waktu dan biaya yang diperlukan untuk menyiapkan bahan ajar secara digital, yang lebih canggih daripada cara-cara tradisional. Bidang # 5: Mengembangkan Perdagangan Melalui e-commerce Di antara negara-negara berkembang, perkembangan e-commerce paling cepat terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Usaha-usaha dagang di kawasan tersebut, terutama di bidang manufaktur, mendapat tekanan dari para pemesan di negara maju agar menerima metodemetode e-business dan menanamkan modal untuk mengikutinya. Populasi pengguna Internet di negeri Cina sudah mencapai ketiga terbesar didunia. Mobile, atau m¬commerce, adalah kegiatan jual-beli barang dan layanan menggunakan alat-alat genggam nirkabel, seperti telepon genggam atau PDA. Dalam empat tahun terakhir, jumlah pemakai telepon genggam di seluruh dunia telah melebihi pemakai telepon kabel, yaitu melonjak dari 50 juta menjadi hampir satu miliar di tahun 2002. Pertumbuhan pesat itu dipicu biaya infrastruktur telepon selular yang lebih menguntungkan daripada instalasi telepon kabel. Selain itu, konsumen telepon selular cukup membeli telepon genggam dan kartu prabayar untuk langsung menggunakan teleponnya, tanpa harus membuka rekening untuk membayar tagihan pemakaian. Perkenalan komunikasi nirkabel ke negara berkembang juga telah membuka layanan data nirkabel, yang sangat esensial untuk menjalankan m-commerce. Jika pertemuan Internet-kabel dan Internet-nirkabel serta TIK berlanjut, maka akses ke Internet untuk bagian terpenting dunia akan berlangsung melalui jaringan dan alat genggam nirkabel. TIK telah dicanangkan sebagai jendela menuju pasar global untuk produsen skala kecil di negara-negara berkembang. E-commerce B2B perlu mendapat perhatian utama dibandingkan B2C, karena e-commerce B2B menawarkan peluang-peluang besar kepada kelompok perajin untuk meningkatkan layanannya kepada para mitra dagang (eksportir, importir, organisasi alternatif untuk perdagangan, pembeli eceran dan grosir, dll.). Cara itu tampaknya lebih menguntungkan dan tepat-sasaran (cost-effective) bagi para perajin. Salah satu bidang yang berpotensi untuk e-commerce adalah pariwisata yang peduli kemiskinan dan berbasis masyarakat setempat. Pariwisata peduli kemiskinan bertujuan meningkatkan keuntungan bersih untuk si Miskin melalui pariwisata dan memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata membantu pengurangan kemiskinan. Pariwisata peduli kemiskinan bukan berupa produk atau sektor dalam pariwisata, melainkan cara pendekatan yang khusus terhadap pariwisata. Strategi pariwisata peduli kemiskinan membuka peluang-peluang bagi masyarakat miskin, baik untuk keuntungan ekonomis dan pencarian nafkah lainnya, maupun untuk keikutsertaan mereka dalam pengambilan keputusan. Pengalaman-pengalaman terdahulu memang menunjukkan bahwa pariwisata peduli kemiskinan dapat ‘mendongkrak’ industri tersebut secukupnya untuk menambah peluang kepada masyarakat miskin dan berpotensi diterapkan secara luas. Pengurangan kemiskinan melalui pariwisata peduli kemiskinan dapat berdampak signifikan di tingkat lokal atau daerah. Di samping itu, dampaknya terhadap kemiskinan dapat lebih besar di wilayah terpencil, walau pariwisatanya sendiri mungkin berskala terbatas. Bidang # 6: Mengembangkan Ketataprajaan yang Lebih Efisien dan Transparan Melalui e-governance Suatu bidang kegiatan yang semakin menjanjikan efektivitas penggunaan TIK dalam mengurangi dimensi-dimensi ketidakberdayaan, kegagapan (voicelessness), kerawanan, dan ketakutan yang mewarnai kemiskinan adalah e-governance. Ketika pemerintah pusat atau daerah mengambil langkah-langkah positif untuk menyebarkan demokrasi dan pengikutsertaan masyarakat miskin, TIK telah membuktikan perannya membantu prosesproses tersebut. Dampaknya dapat berwujud penghapusan kebiasaan diskriminatif, ketidakjelasan, ketidakefisienan, dan kelalaian dalam hubungan khalayak dengan pejabatpejabat pemerintah. Bidang # 7: Mengembangkan Kemampuan Pengembangan kemampuan biasanya berkaitan dengan pembinaan keterampilan dan kemampuan dasar organisasi (atau individu) untuk membantu mereka mencapai tujuan pembangunan. Definisi tersebut sangat sesuai dengan konteks TIK karena mengasumsikan pengetahuan yang menyadari adanya tujuan pembangunan; tanpa kesadaran itu TIK tidak dapat berbuat banyak. Agaknya, pertanyaan kunci bagi upaya mengurangi kemiskinan adalah, “Dapatkah TIK mengembangkan kemampuan orangorang yang paling miskin untuk mencapai apa pun yang menjadi tujuan mereka?” Skenario yang paling mungkin untuk kalangan yang sangat miskin begitu adalah meneruskan bantuan dari organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang telah menggunakan TIK dan yang program-programnya memang membidik dan berinteraksi dengan kalangan tersebut sebagai penerima. TIK dalam bentuk pusat komunitas multimedia atau telecentre, terutama di tingkat perdesaan, dapat bertindak sebagai titik akses untuk keterhubungan komunitas, pengembangan kemampuan lokal, pengembangan materi dan komunikasi (content development and communications), serta berfungsi sebagai pusat untuk penerapanpenerapan strategi TIK, seperti pendidikan jarak jauh, layanan informasi kesehatan jarak jauh (telemedicine), bantuan untuk usaha-usaha kecil, menengah, dan kredit mikro, promosi e-commerce, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan wanita dan remaja. Jika layanan-layanan demikian memiliki strategi kepedulian akan masyarakat yang sangat miskin, maka efektivitas TIK dapat diarahkan kepada mereka. Warung-warung Informasi Dusun di Pondicherry, India telah merangkul program demikian. Mereka menggunakan TIK untuk meningkatkan kesadaran masyarakat miskin akan program-program pemerintah dan bantuan-bantuan yang menjadi hak mereka. Mereka punya bank data yang mendaftarkan lebih dari 100 jenis bantuan. Di samping itu, mereka telah memiliki daftar kalangan yang sangat miskin, yang menjadi perhatian pemerintah, dan dapat dibaca di semua telecentre. Staf telecentre secara proaktif menghubungi orang-orang yang namanya tercantum dalam daftar untuk menyampaikan hak-hak tertentu yang dapat mereka peroleh dari pemerintah. Staf telecentre juga memberikan bantuan untuk menyampaikan permintaan hak tersebut dengan menghubungi birokrat yang bertanggung jawab, yang kemudian memproses permohonan tersebut. (Pejabat pemerintah sendiri tidak pernah menerapkan cara kerja demikian.) Hasilnya, tiap rumah tangga di sebuah kampung nelayan sekarang menerima subsidi perumahan yang menjadi hak mereka, padahal sebelumnya mereka tidak pernah menerimanya. Pengembangan kemampuan juga berkaitan dengan penghimpunan modal sosial yang mengacu pada aspek-aspek organisasi sosial, seperti jaringan sosial, kebiasaan, dan kepercayaan, yang memfasilitasi koordinasi dan kooperasi untuk kepentingan bersama dengan bantuan TIK. TIK membantu menciptakan dan memelihara jaringan online dan offline yang memperkenalkan dan saling menghubungkan orang-orang yang bekerja dengan tujuan yang serupa. Banyak organisasi perempuan yang telah menyadari akan potensi tersebut dan mereka memiliki proyek-proyek yang menyokong penggunaan TIK sebagai alat advokasi. TIK juga dapat menjadikan individu tertentu, terutama mereka yang pertama-tama memanfaatkan TIK, untuk memicu perubahan berkesinambungan dalam komunitasnya. Seorang wanita yang sangat kreatif di sebuah kota kecil Mongolia, yang menjalankan sendiri sebuah LSM untuk menunjang usaha-mikro para wanita, memanfaatkan telecentre untuk menghubungi sebuah lembaga pendanaan di Inggris dan berhasil memperoleh dana sebesar US10.000 untuk membantu usahanya, suatu jumlah yang amat besar dalam konteks tersebut. Bidang # 8: Memperkaya Kebudayaan TIK dapat baik menguntungkan, maupun mengancam kebudayaan Indonesia. Mengancam, karena dapat menggulung kebudayaan-kebudayaan setempat dalam proses globalisasi yang tak terbendung. Akan tetapi, TIK juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu kelompok-kelompok yang terancam agar dapat menghadapi arus globalisasi secara positif dan sesuai dengan kemauan mereka. Keprihatinan saat ini adalah bahwa keadaan yang pertamalah yang lebih mungkin terjadi dibandingkan dengan keadaan yang kedua. Patut diingat bahwa TIK tidak akan dapat menciptakan kemanunggalan ataupun keberagaman kebudayaan jika bertindak sendiri. Penyesuaian perilaku individu, kelompok, dan lembaga-lembaga sangatlah mutlak, sebelum hasil-hasil signifikan yang diharapkan dari pemanfaatan TIK dapat diperoleh. Lembaga-lembaga yang telah ada—seperti perpustakaan dan museum—dapat membantu proses pemerataan pemilikan aset-aset kebudayaan, asalkan mereka dapat menyiasati keterbatasan peran tradisionalnya. Internet telah menjadikan peran tradisional perpustakaan dan museum tampak kuno. Padahal, lembaga-lembaga seperti itu berperan besar dalam memobilisasi masyarakat agar menerima cara-cara pendekatan yang lebih terbuka dan dinamis untuk mempertahankan dan melindungi kebudayaan asli. Perpustakaan dan museum dapat memfasilitasi pola kepemilikan dan pelestarian yang lebih merata bagi benda-benda kebudayaan yang kini dapat disajikan secara digital. Jaringan-jaringan yang menghubungkan gambar-gambar digital benda-benda budaya dengan komunitas tempat asal benda-benda budaya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan penghargaan yang lebih luas terhadap nilai dan kepentingannya serta lebih melibatkan diri dalam menentukan pemanfaatan dan penafsirannya. TIK dapat dimanfaatkan untuk membantu penduduk asli di perdesaan dan komunitas minoritas memperoleh hak mereka untuk kepemilikan pemeliharaan dan penafsiran serta komersialisasi warisan budaya mereka sendiri. Kajian-kajian mengenai komunitas asli selalu menunjukkan betapa mereka menghargai warisan budaya mereka, namun mereka juga menggarisbawahi kenyataan bahwa mereka nyaris tidak berhak atau berpartisipasi dalam menetapkan bagaimana kekayaan budaya mereka dapat dihimpun atau disajikan. TIK tidak akan menyeragamkan kebudayaan, melainkan memelihara keberagamannya. Apa pun hasil yang akan diperoleh sangatlah bergantung dari keputusan para anggota masyarakatnya tentang bagaimana TIK akan dimanfaatkan. Saat ini UNESCO sedang merumuskan suatu akta dan panduan untuk pelestarian warisan budaya secara digital. Warisan digital adalah semua materi digital yang bernilai dan bermakna abadi. Strategi-strategi baru perlu dikembangkan untuk menjamin agar warisan itu dapat diturunkan kepada anak-cucu. Warisan digital dapat ‘terlahir digital’, yaitu tidak ada bentuk lainnya di samping bentuk asli yang digital, atau bentuk yang diciptakan melalui pengalihannya dari bahan-bahan yang ada dalam bahasa apa pun dan di bidang pengetahuan dan kesenian apa pun. Warisan digital mencakup baik teks linear, data dasar, gambar-gambar yang diam dan bergerak, audio, dan grafika, maupun piranti lunak yang berkaitan, baik bersumber online maupun offline dari berbagai belahan dunia. Preambul akta mencantumkan bahwa pusat-pusat intelektual dan kultural semua bangsa dalam bentuk digital terancam karena sifatnya yang sementara. Akta kebudayaan kemudian memerinci kebutuhan akan asas-asas pelestarian digital dan strategi yang akan menjamin bahwa warisan budaya ini akan dapat dipelajari siapa pun dan kapan pun di masa depan. Banyak kelompok pribumi dan minoritas tidak merasa bahwa mereka adalah pewaris sah kebudayaan mereka sendiri. Mereka kuatir bahwa orang asing lebih mudah memperoleh baik catatan maupun benda-benda yang berkaitan dengan warisan budaya mereka daripada mereka sendiri. Keprihatinan utama mereka dipicu baik oleh kemungkinan penyalahgunaan cara pemerolehan demikian, maupun ketidakmampuan orang-orang demikian untuk memperlakukan warisan budaya itu sebagaimana mestinya. Mereka tidak dapat menunjukkan kepada dunia luar gambaran tentang diri mereka sendiri, sejarah dan kejayaannya, yang seringkali mereka sendiri pun tidak tahu persis. Mereka berpandangan bahwa keadaannya semakin parah dan bukannya menjadi lebih baik sejak teknologi mengalihkan kekuasaan kepada segelintir manusia untuk menggali informasi mengenai warisan mereka, namun merampas mayoritas pewarisnya dari kesempatan serupa. Mereka ingin agar TIK meluruskan ketimpangan tersebut dengan merekam sejarah lisan dan silsilah mereka. Bidang # 9: Menunjang Pertanian Riset mengungkapkan bahwa peningkatan produktivitas agraria menguntungkan yang miskin dan yang bukan pemilik tanah karena menawarkan peluang-peluang kerja lebih banyak. Karena mayoritas orang miskin tinggal di perdesaan dan memperoleh nafkahnya langsung atau tidak langsung dari pertanian, maka menunjang usaha pertanian menduduki prioritas utama dalam pembangunan perdesaan. TIK dapat memberikan informasi yang berharga kepada para petani dalam bentuk pemeliharaan tanaman dan hewan, pemberian pupuk dan pakan hewan, pengurangan dampak kemarau, pemberantasan hama, irigasi, ramalan cuaca, sumber benih, dan harga pasaran. Kegunaan TIK juga menguntungkan para petani dalam hal memungkinkan mereka ikut serta dalam kegiatan advokasi dan kooperasi. Contoh konkret manfaat TIK menunjang pertanian adalah kasus di negara bagian Maharashtra, India. Pemerintah negara bagian itu berencana menghubungkan 40.000 desa dengan Agronet, yaitu suatu paket piranti lunak yang khusus dirancang untuk para petani dan bertujuan mensuplai informasi-informasi mutakhir tentang pertanian. Misalnya, di sejumlah daerah di India berkali-kali terjadi semua petani panen tomat pada waktu yang bersamaan, sehingga menjatuhkan harga jual tomat di pasaran. Kemudian, ketika tomat sulit diperoleh dan harga melonjak, para petani tidak punya tomat lagi untuk dijual. Sekarang, mereka memanfaatkan jaringan telecentre untuk mengoordinasikan penanaman, agar selalu ada persediaan di pasar, lebih teratur, dan harga-harga juga normal. Petunjuk-petunjuk yang diberikan berasal dari data yang diperoleh dari praktik pengolahan tanah yang dilakukan di negara bagian dan disediakan oleh layanan pertanian pihak pemerintah serta lembaga-lembaga setempat. Informasi pertanian dihubungkan dari kantor pusat ke komputer-komputer di telecentre. Jika para petani memerlukan informasi khusus yang tak dapat segera dilayani para petugas pertanian di telecentre, maka seorang teknisi akan mengisi form pertanyaan online dan mengirimkannya melalui modem ke kantor pusat. Spesialis-spesialis yang lebih berpengalaman dan lebih ahli akan mengusahakan dan mengoordinasi jawaban-jawabannya, yang biasanya terkirim kembali ke telecentre dalam waktu 24 jam. Bidang # 10: Menciptakan Lapangan Kerja Berkat pemanfaatan TIK maka terbuka dua bidang lapangan kerja. Pertama, para pencari pekerjaan dapat menggunakan TIK untuk mencari peluang kerja di kota atau daerah terdekat. Kedua, mereka dapat melakukan pekerjaan baru yang tercipta akibat pemakaian TIK. Masyarakat miskin di perdesaan kekurangan kesempatan kerja karena mereka kebanyakan tidak dapat mengakses informasi tentang hal itu. Salah satu manfaat TIK adalah menyediakan layanan online untuk menawarkan kesempatan kerja melalui pertukaran informasi kesempatan kerja secara elektronik dengan kantor ketenagakerjaan atau instansi penempatan tenaga kerja lainnya. Biasanya, penerimaan pekerjaan dilakukan dalam sistem tertutup yang melibatkan perantara untuk kliennya. Keterbukaan yang ditawarkan TIK memberi peluang mencari informasi secara lebih tepat dan transparan. Melalui bank-bank data pencari kerja, misalnya, pencari tenaga dapat mencari dan langsung mengakses riwayat pengalaman kerja si pencari pekerjaan, yang pada gilirannya dihubungkan secara elektronik dengan bank-bank data lowongan pekerjaan. Semua bank data tersebut bersifat terbuka. Piranti-piranti khusus telah disediakan untuk membantu calon pencari tenaga untuk meneliti riwayat hidup para pelamar, atau secara otomatis mengirimkan e-mail kepada para pelamar bila ada lowongan yang dianggap cocok untuknya. ILO telah mencatat bahwa beberapa negara berkembang telah dapat menciptakan lapangan kerja untuk ribuan wanita dan pria melalui titik-titik akses komunitas dan telecentre. Salah satu pilihan yang sering diambil adalah membeli telepon selular melalui program kredit mikro dan memperoleh penghasilan dari penyediaan jasa telepon dengan harga murah. Di beberapa negara di Asia, telecentre dibangun dengan dana masyarakat atau pribadi dan ditempatkan di wartel-wartel, sekolah, perpustakaan, balai pertemuan, pos polisi, dan klinik. Patungan membeli alat, berbagi keterampilan dan akses di antara para pemakai yang semakin bertambah jumlahnya juga membantu mengurangi biaya dan memungkinkan usaha-usaha demikian dibuka di daerah-daerah terpencil. Jumlah remaja yang tidak bekerja mencapai lebih dari 30% jumlah penganggur di kawasan Asia-Pasifik dan mereka sebenarnya paling pas memanfaatkan fasilitas yang ada di daerah-daerah pertumbuhan telecentre. Bidang # 11: Mendorong Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial adalah proses untuk menjaring sumber daya lokal yang dapat mendorong bentuk-bentuk swapengembangan komunitas yang berkelanjutan. Kegiatan itu telah dirintis UNDP dengan Program Penanggulangan Kemiskinan Asia Selatan (SAPAP, South Asia Poverty Alleviation Programme) yang didirikan tahun 1993 untuk menambah kemampuan nasional mengintegrasikan pertumbuhan dan kebijakan pengurangan kemiskinan serta untuk menunjukkan kebolehan mekanisme mobilisasi sosial yang berfungsi di tiap negara peserta. SAPAP adalah program regional terbesar UNDP di Asia, dengan alokasi dana sebanyak US$11.3 juta. Program tersebut diterapkan di enam dari tujuh negara SAARC, yaitu di Nepal, India, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, dan Maladewa (Maldives). Tujuan utama program tersebut adalah membantu menghapuskan kendala yang dihadapi komunitas perdesaan yang miskin dalam menjaring potensinya sendiri untuk mengembangkan diri. Strategi berlapis tiga melengkapi program, berdasarkan organisasi sosial, perolehan modal, dan sumber daya manusia. Pertama, penduduk berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah pembangunan setempat yang melibatkan kepentingan bersama dan untuk memulai pembangunan lokal. Kedua, mereka diimbau agar menabung, yang selang beberapa lama akan menjadi sumber penting bagi pelayanan kredit. Ketiga, mereka dilatih, terutama dalam teknik-teknik pengelolaan dan kegiatankegiatan yang mendatangkan penghasilan, agar dapat mendirikan basis untuk pembangunan institusional kalangan paling bawah, untuk memperbaiki penyampaian layanan sektoral, dan untuk mendukung mereka yang berminat melakukan kegiatan sosio-ekonomik. Relevansinya di sini tidaklah hanya karena semua aktivitas itu dapat dibantu berkat TIK, tetapi karena kegiatan demikian telah mengajak masyarakat memanfaatkan TIK secara optimal. Kajian di Nepal sebagai peserta SAPAP menggarisbawahi keterkaitan antara mobilisasi sosial dan TIK. Pada gilirannya, hal itu menunjukkan bahwa TIK dapat berhasil jika diperkenalkan kepada masyarakat dalam program yang menunjukkan ciri-ciri tertentu, seperti kemampuan berorganisasi, kemampuan belajar, dan semangat membangun, yang merupakan petunjuk bagi keberhasilan telecentre. Selanjutnya, dapat juga dicatat bahwa setelah enam hingga delapan tahun mengikuti program tersebut, masyarakat mencapai “titik jenuh” karena telah menggunakan semua peluang untuk pemanfaatan aset-aset fisikalnya. TIK dianggap sebagai suatu mesin pembangunan yang baru yang memungkinkan masyarakat mulai mengeksploitasi aset informasi untuk kegiatan pembangunan lebih lanjut. Mobilisasi sosial menawarkan indikator yang berguna untuk pendekatan yang tepat dalam memperkenalkan TIK kepada masyarakat miskin. Dikutip dari : Teknologi Informasi dan Komunikasi: Strategi Peduli Kemiskinan (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional & United Nations Development Programme / UNDP). Sumber Link : http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/1436/ |
|



| Visitors: 1880636 |
| We have 27 guests online |