SERBA SERBI BATIK PEKALONGAN, BATIK INDONESIA, SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA

Surel Cetak PDF
Tulisan yang dihimpun dari berbagai sumber ini untuk menyatukan berbagai informasi yang telah mengulas tulisan mengenai istilah batik, sejarah dan perkembangannya, hingga ke proses pembuatannya. sebagai pelengkap disajikan standar nasional indonesia yang telah dikonversikan ke harmonized system sebagai tambahan bahwa batik di Indonesia telah memiliki standar yang dapat dipakai sebagai pedoman dan acuan.

ISTILAH BATIK
Batik secara etimologis merupakan istilah asli tradisional Jawa dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Dari istilah ini Batik mengacu pada dua pengertian ; yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Dalam istilah internasional "Batik is an Indonesian traditional word and refers to a generic wax-resist dyeing technique used on fabric (http://www.translationdirectory.com/glossaries/glossary098.htm)".

Batik sebagai kata benda adalah "a dyed fabric; a removable wax is used where the dye is not wanted", batik (dye with wax), sebagai kata karja bermakna "Indonesian fabrics are often batiked" (http://wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn?s=batik). Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Beberapa penulis meyakini bahwa kata batik merupakan kata asli Indonesia dan (seni) batik merupakan karya seni hasil budaya bangsa Indonesia yang sudah termasuk tua. Dalam Babad Sengkala tahun 1633 dan dalam Pandji Djaja Lengkaratahu 1770, kata-kata batik dan membatik sudah ada. Tulisan pada lontar dari Kerajaan Galuh (Cirebon Selatan) kira-kira pada tahun 1520, sudah ada kata tulis dan lukis. Seni batik pada waktu itu dibuat oleh para pria yang dinamakan lukis, sedangkan (seni) batiknya disebut tulis. Menurut sumber dar iJawa Timur tahun 1275 disebutkan sudah ada beberapa pola seperti pola grinsing yang menurut Rouffaer pola grinsing hanya dapat dibuat dengan alat canting, namun tidak jelas seperti apa bentuk alat cantingnya dan apakah istilah batik sudah digunakan waktu itu.

Ditinjau dari segi bahasa, kata batik berasal dari bahasa Jawa, berasal dari akar kata tik yang berarti kecil. Di daerah-daerah lain di Indonesia banyak kata yang berakhiran tik dengan arti yang hampir serupa yaitu kecil, misalnya leutik berarti kecil, pabatik berarti melukis tubuh orang, mahapantik berarti menulis, patik berarti menggambar. Kata ambatik dapat diartikan menulis atau menggambar serba kecil atau rumit. Di dalam seni batik, kata ambatik atau anyerat diartikan menggambar atau menulis serba rumit di atas kain. Karena menggambar serba rumit di atas kain hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat canting tulis dan menggunakan lilin batik sebagai zat perintang warna, maka istilah atau kata batik lahir setelah ditemukannya alat canting tulis dan lilin batik. Sebelumnya orang tidak menyebut batik. Walaupun motif-motif yang selanjutnya dituangkan dalam (seni) batik itu sudah tidak ada. Sebagai contoh, motif-motif yang terdapat di candi-candi sudah ada sebelum lahirnya (seni) batik. Diperkirakan seni ukir di Indonesia sudah lebih tua usianya dibandingkan denga seni batik.

Dengan ditemukannya canting tulis dan lilin batik berakibat memacu kreatifitas para seniman batik Indonesia sehingga (seni) batik Indonesia mencapai kualitas tertinggi mulai saat itu, apalagi didukung oleh beberapa kemudahan seperti adanya zat warna sintetis, teknologi pembuatan canting tulis dan pembuatan lilin batik yang semakin sempurna, penyediaan kain mori dengan kualitas yang baik, menyebabkan batik Indonesia terkenal sampai ke luar negeri. Selanjutnya produk batik berkembang tidak sekedar produk (seni) batik tetapi menjadi produk industri (kerajinan) batik. Batik sudah menjadi mata dagangan dan pembatikan sudah merupakan mata pencaharian sebagian masyarakat Indonesia
(http://batikeia3.site90.net/sejarah%20batik.html).


BATIK DALAM KEHIDUPAN BANGSA-BANGSA
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.


Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

SEJARAH PEMBATIKAN DI DUNIA

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

SEJARAH PEMBATIKAN DI INDONESIA (NUSANTARA)

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Di Indonesia daerah penghasil batik adalah sekitar Sumatera selatan (Palembang dan Jambi), Pulau Jawa, Pulau Madura, dan sebagian Pulau Bali. Di Pulau Jawa, Batik diproduksi di Yogyakarta dan Surakarta,  dan daerah pesisir yang diwakili Pekalongan dan Cirebon merupakan dua daerah penghasil batik terbesar.

SEJARAH PEMBATIKAN DI PEKALONGAN

Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

Dari catatan sejarah, ada tiga kriteria batik Pekalongan. Pertama, batik pribumi. Batik ini dibuat dengan selera gaya pribumi. Motifnya tidak terikat dengan ketentuan raja-raja sehingga lebih bebas. Batik ini mengikuti perkembangan pasar dengan produksi yang cepat laku di pasaran.
Kedua, batik encim. Batik ini diproduksi oleh masyarakat keturunan China dan digolongkan menjadi tiga yang didasari motif atau ragam hias buketan, budaya China dan ragam lukisan. Ketiga, batik Londo, yang dibuat sebagian besar masyarakat keturunan Belanda. Hiasannya tentu dipengaruhi oleh selera/budaya Belanda.
Tiga golongan batik Pekalongan itu berkembang berdampingan dan masing-masing memiliki pembeli sendiri. Namun, diakui orang bahwa batik pribumi merupakan yang tertua di antara ketiganya, meski tidak ada catatan kapan dan oleh siapa batik itu dibuat. Yang pasti, batik itu sudah ada sebelum pedagang China dan Belanda berniaga ke Pekalongan.
Menurut dia, batik Pekalongan mencapai kejayaannya sekitar tahun 1850, antara lain produksi Eliza Van Zuylen, Oey Soen King, dan sampai menjelang perang dunia II dikenal juga batik produksi Ny Sastromulyono.

Mengenai perkembangan batik Pekalongan sejak abad-19 sampai sekarang, menurut Dudung Alisyahbana, cukup berkembang pesat. Lihat saja, tentang munculnya Batik Jawa Hohokai yang dikatakan sebagai karya batik terindah sepanjang sejarah batik di Jawa.
Batik yang diproduksi di Pekalongan 1942-1945 itu muncul setelah perang dunia II. Dampak perang itu terjadi pendudukan Jepang di Indonesia. Akibatnya, terjadi putus hubungan perdagangan dengan Belanda. Perdagangan mori dan obat pewarna terputus, sehingga persediaan menipis. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Pada masa ini pembatik Pekalongan membuat batik baru, yang lebih rumit dan dibuat dengan sistem padat karya, dengan tujuan memperlambat dan tidak kehilangan pekerja. Hasilnya luar biasa, yang banyak dikenal Batik Djawa Hokokai.

CORAK DAN MOTIF BATIK

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain. Diantaranya corak batik yang terkenal adalah :
1. Batik Kraton : Motif batik ini mengandung makna filosofi hidup, dikatakan batik keraton karena batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Beberapa motif batik keraton dilarang digunakan oleh orang “biasa”, diantaranya motif Parang Rusak, Parang Barong, dan beberapa motif lainnya.
2. Batik Saudagaran : Beberapa motif larangan dari batik keraton membuat para pengrajin batik untuk membuat motif batik yang baru. Dikatakan batik saudagaran dikarenakan awalnya motif batik ini ditujukan kepada masyarakat saudagar. Desain batik ini lebih berani dengan warna-warna dominasi biru tua dan warna soga. Motifnya seperti motif satwa dan benda-benda alam.
3. Batik Petani : Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing.
4. Batik Belanda : Dikatakan batik Belanda karena batik ini motifnya dibuat oleh keturunan Belanda di zaman penjajahan, seperti bunga tulip dan tokoh cerita dongeng eropa.
5. Batik Cina / Pecinaan : Batik Cina merupakan akulturasi budaya antara perantau dari Cina dengan budaya lokal Indonesia. Ciri khasnyawarnanya variatif dan cerah, dalam satu kain menampilkan banyak warna. Motifnya banyak mengandung unsur budaya Cina seperti motif burung hong (merak) dan naga.
6. Batik Jawa Hokokai : Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan.

Ada beberapa pandangan yang mengelompokkan batik menjadi dua kelompok seni batik, yakni batik keraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan seni batik pesisir.
Motif seni batik keraton banyak yang mempunyai arti filosofi, sarat dengan makna kehidupan. Gambarnya rumit/halus dan paling banyak mempunyai beberapa warna, biru, kuning muda atau putih. Motif kuno keraton seperti pola panji (abad ke-14), gringsing (abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan parang, serta motif anyaman seperti tirta teja.
Kemudian motif batik pesisir memperlihatkan gambaran yang lain dengan batik keraton. Batik pesisir lebih bebas serta kaya motif dan warna. Mereka lebih bebas dan tidak terikat dengan aturan keraton dan sedikit sekali yang memiliki arti filosofi. Motif batik pesisir banyak yang berupa tanaman, binatang, dan ciri khas lingkungannya. Warnanya semarak agar lebih menarik konsumen.

JENIS BATIK MENURUT TEKNIK PEMBUATANNYA

1. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
2. Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
3. Batik saring,
4. Batik celup,
5. Batik terap.

CARA MEMBUAT BATIK TULIS

Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan untuk membuat batik tulis :
1. Kain mori (bisa terbuat dari sutra atau katun). Kain ini bervariasi berdasarkan mutu dan kualitasnya. Selain digunakan sebagai bahan batik, kain mori juga digunakan sebagai kain kafan (pembungkus tubuh orang sudah meninggal yang beragama Islam).
2. wajan/Grengseng tempat untuk memanaskan malam (lilin) supaya cair
2. Canting sebagai alat pembentuk motif, dengan berbagai macam ukuran sebagai alat untuk mencurahkan malam cair ke dalam mori yang digambari. Wajah bisa dibuat dari logam atau tanah liat. Umumnya yang digunakan terbuat dari tanah liat sebab tangkainya tidak mudah panas.
3. Gawangan, tempat untuk menyampirkan kain dan menempatkan mori yang akan dibatik.
4. Lilin (malam) yang dicairkan
5. Anglo/kompor kecil untuk memanaskan malam dengan bara api,  Anglo adalah alat perapian sebagai pemanas “malam” terbuat dari tanah liat bisa juga memakai alat perapian dengan kompor.
6. Kenceng untuk mendidihkan air ketika nglorot atau mbabar
6. Tepas/Tepos (kipas) untuk membesarkan api menurut kebutuhan, bisa juga memakai kipas angin
7. Bandhul untuk menahan kain agar tidak bergerak-gerak ketika dilukis
8. uthik untuk mengais arang
9. cawuk untuk mengerok
10. Alu untuk memukuli kain mori yang akan dibatik agar lemas dan memudahkan pembatik dalam proses pembuatannya
11. Bak untuk nglorot.
12. Larutan pewarna. Bahan pewarna yang digunakan dalam membatik terdapat dua macam, yaitu pewarna sintetis dan alami. Pewarna buatan biasanya menggunakan naptol, indigo, dan lain-lain. Pewarna alami biasanya menggunakan bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan seperti daun, kayu kliko, daun tom, kayu jambal, soga, tegeran, dan lain sebagainya.
13. Kuas, apabila ingin membatik dengan gaya abstrak. Maka diperlukan kuas yang tahan panas dengan bermacam-macam ukuran.
14. Jegol. Jegol ini mirip dengan kuwas, dibuat dari kumpukan benang, gunanya untuk menutup blok besar..

Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini:
1. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu.
2. Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.
3. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi.
4. Setelah itu, nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah untuk menahan rembesan zat warna biru atau coklat.
5. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.
6. Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.
7. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.
8. Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.
9. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali.
10. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.

Berdasarkan tahapan proses pembuatan batik di atas, dapat diinventarisasikan istilah-istilah unik dari peralatan maupun proses dalam membatik, yaitu :
1. canting terbuat dari tembaga, gunanya untuk melukis (memakai cairan “malam”) membuat motif-motif batik yang dikehendaki. Canting terdiri dari cucuk (saluran kecil) dan leleh (tangki) lubang, ada yang satu cucuk, dua cucuk, bahkan ada yang tiga (kain kasar), gunanya untuk menutup blok kecil.
2. gawangan, pada dasarnya, gawangan gunanya untuk membentangkan mori agar mudah dibatik. Gawangan dibuat dari kayu atau bambu dibentuk sedemikian rupa, sehingga mudah dipindah dan harus ringan tetapi kuat.
3. digemplong menggulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu
4. mola membuat pola pada mori dengan menggunakan malam
5. nglowong menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola
6. nembok prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat
7. medel atau nyelup memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan
8. ngerok menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat
9. mbironi dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat
10. nyoga memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain.
11. mbabar atau nglorot membersihkan malam dengan cara memasukkan kain mori ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali.

Catatan :
- Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
- Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
- Proses nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.

PROSES PEMBUATAN BATIK PRINTING
   1. Pewarnaan
         1. Obat yang sudah dituang siap untuk dipakai
         2. Mori/bakal yang akan diwarnai ditata dengan rpi dan jangan sampai melipat atau bertumpukan
         3. Letakan obat siap pakai ke dalam bak/jeger
         4. Tuang secukupnya untuk ukuran seberapa banyak mori/bakal yang akan diwarnai
         5. Lakukan pewarnaan dengan hati-hati agar warna rata tidak blenteng
         6. Mori/bakal satu-persatu dicelupkan atau diputar dalan jeger
         7. Pewarnaan sebaiknya dilakukan di tempat yang terang agar warna dapat kelihatan rata tidak blenteng
         8. Mewarnai sebaiknya dilkuka berkali-kali agar warna tidak mudah luntur

   2. Penjemuran
         1. Penjemuran batik/mori yang sudah diwarnai
         2. Dijemur di tempat-tempat yang tertutup dan jauh dari sinar matahari
         3. Penjemuran pun bisa dilakukan di tempat yang panas bagi batik/bakal yang sudah jadi

   3. Penyablonan
      1. Mori atau bahan yang sudah diwarnai bisa disablon atau dicap dengan canting
      2. Penyablonan bisa dilakuakn dengan memakai canting tembaga, canting kayu ataupun dengan plangkan
      3. Penyablonan menggunakan plangkan memakan waktu lebih sedikit karena penyablonan memakai plangkan sekali jadi karena berbeda obat

     4. Pelorotan (finishing)
         Maksudnya dilayar/dilorot yaitu direbus kemudian kain itu direndam satu hari bilamana perlu bersih dan putih, kemudian kain itu ditemplong, yaitu kain tersebut dibasuhi air, ditumpuk yang rapi lalu disetrika gunanya supaya kain tersebut halus.

STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) MENGENAI BATIK 

1. SNI 08-0239-1989, Istilah batik (Terminology of batik)
2. SNI 08-0240-1989, Definisi isen batik (Definition of batik motif)
3. SNI 08-0246-1989, Definisi procede batik (Definition of batik procede)
4. SNI 08-0247-1989, Definisi dan penggolongan pola batik (Definition and classification of batik pattern).
 
ICS :
1. 01.040.59 Teknologi tekstil dan kulit (Kosakata)
SK Penetapan : 798/IV.72/A.4/1989 Tanggal Penetapan : 18-04-2006
Menjadi Acuan Normatif untuk SNI :
SNI 06-6319-2000   Parafin wax untuk malam batik
SNI HS :
 1. 6201.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 2. 6202.13.00.10 -Mantel panjang, jas hujan, car-coats, jubah bertopi, cloak dan barang semacam itu : --Dari serat buatan :---Batik
 3. 6202.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 4. 6204.63.00.10 -Celana panjang, bib dan brace overall, celana panjang sampai lutut dan celana pendek : --Dari serat sintetik :---Batik
 5. 6211.11.00.10 -Pakaian renang : --Untuk pria atau anak laki-laki :---Batik
 6. 6211.12.00.10 -Pakaian renang : --Untuk wanita atau anak perempuan :---Batik
 7. 6215.20.00.10 -Dari serat buatan :--Batik
 8. 6213.20.00.10 -Dari kapas :--Batik
 9. 6213.90.00.11 --Dari sutra : ---Batik
 10. 6213.90.00.91 --Lain-lain : ---Batik
 11. 6214.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 12. 6214.30.00.10 -Dari serat sintetik :--Batik
 13. 6214.40.00.10 -Dari serat tiruan :--Batik
 14. 6214.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 15. 6215.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 16. 6215.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 17. 6302.51.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari kapas :---Batik
 18. 6302.53.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari serat buatan :----Batik
 19. 6302.59.00.10 --Dari serat tekstil lainnya :---Batik
 20. 6302.60.00.10 -Linen untuk toilet dan linen untuk dapur, dari terry towelling atau kain terry semacam itu, dari kapas :--Batik
 21. 6302.91.00.10 -Lain-lain : --Dari kapas :---Batik
 22. 6302.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 23. 6304.19.10.10 ---Dari kapas :----Batik
 24. 6304.19.20.10 ---Lain-lain, dari bukan tenunan :----Batik
 25. 6304.19.90.10 -Penutup tempat tidur : --Lain-lain :\ ---Lain-Lain :----Batik

Detail SNI  Nomor SNI :  [berlaku]  SNI 08-0240-1989  

Judul :
Definisi isen batik

Abstraksi :
Definisi dari isen batik, yang sering dijumpai dalam industri batik maupun perdagangan batik di Indonesia. Lukisan-lukisan yang memiliki bentuk-bentuk tertentu mempunyai istilah tertentu.

ICS :
  1. 01.040.59 Teknologi tekstil dan kulit (Kosakata)

SK Penetapan : 798/IV.72/A.4/1989 Tanggal Penetapan : 18-04-2006 

SNI HS :
 1. 6201.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 2. 6202.13.00.10 -Mantel panjang, jas hujan, car-coats, jubah bertopi, cloak dan barang semacam itu : --Dari serat buatan :---Batik
 3. 6202.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 4. 6204.63.00.10 -Celana panjang, bib dan brace overall, celana panjang sampai lutut dan celana pendek : --Dari serat sintetik :---Batik
 5. 6211.11.00.10 -Pakaian renang : --Untuk pria atau anak laki-laki :---Batik
 6. 6211.12.00.10 -Pakaian renang : --Untuk wanita atau anak perempuan :---Batik
 7. 6215.20.00.10 -Dari serat buatan :--Batik
 8. 6213.20.00.10 -Dari kapas :--Batik
 9. 6213.90.00.11 --Dari sutra : ---Batik
 10. 6213.90.00.91 --Lain-lain : ---Batik
 11. 6214.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 12. 6214.30.00.10 -Dari serat sintetik :--Batik
 13. 6214.40.00.10 -Dari serat tiruan :--Batik
 14. 6214.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 15. 6215.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 16. 6215.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 17. 6302.51.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari kapas :---Batik
 18. 6302.53.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari serat buatan :----Batik
 19. 6302.59.00.10 --Dari serat tekstil lainnya :---Batik
 20. 6302.60.00.10 -Linen untuk toilet dan linen untuk dapur, dari terry towelling atau kain terry semacam itu, dari kapas :--Batik
 21. 6302.91.00.10 -Lain-lain : --Dari kapas :---Batik
 22. 6302.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 23. 6304.19.10.10 ---Dari kapas :----Batik
 24. 6304.19.20.10 ---Lain-lain, dari bukan tenunan :----Batik
 25. 6304.19.90.10 -Penutup tempat tidur : --Lain-lain :\ ---Lain-Lain :----Batik

Nomor SNI :  [berlaku]  SNI 08-0246-1989  

Judul :
Definisi procede batik

Abstraksi :
Definisi istilah dari langkah pengerjaan pelekatan/pelepasan lilin batik dan pewarnaan, yang akan memberikan hasil dan procede yang berbeda, seperti procede batik kerokan, bedesan dan krodan.

ICS :
  1. 01.040.59 Teknologi tekstil dan kulit (Kosakata), SK Penetapan : 798/IV.72/A.4/1989 Tanggal Penetapan : 18-04-2006 

Detail SNI  Nomor SNI :  [berlaku]  SNI 08-0247-1989  

Judul :
Definisi dan penggolongan pola batik

Abstraksi :
Pola batik digolongkan menjadi 5 golongan yaitu ceplok, lerek, lengkungan, semen dan pinggiran. Masing-masing pola mempunyai bentuk tertentu.

ICS (International Classification for Standards) :
  1. 01.040.59 Teknologi tekstil dan kulit (Kosakata)

SK Penetapan : 798/IV.72/A.4/1989 Tanggal Penetapan : 18-04-2006 
SNI HS (SNI Harmonized System):
 1. 6201.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 2. 6202.13.00.10 -Mantel panjang, jas hujan, car-coats, jubah bertopi, cloak dan barang semacam itu : --Dari serat buatan :---Batik
 3. 6202.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 4. 6204.63.00.10 -Celana panjang, bib dan brace overall, celana panjang sampai lutut dan celana pendek : --Dari serat sintetik :---Batik
 5. 6211.11.00.10 -Pakaian renang : --Untuk pria atau anak laki-laki :---Batik
 6. 6211.12.00.10 -Pakaian renang : --Untuk wanita atau anak perempuan :---Batik
 7. 6215.20.00.10 -Dari serat buatan :--Batik
 8. 6213.20.00.10 -Dari kapas :--Batik
 9. 6213.90.00.11 --Dari sutra : ---Batik
 10. 6213.90.00.91 --Lain-lain : ---Batik
 11. 6214.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 12. 6214.30.00.10 -Dari serat sintetik :--Batik
 13. 6214.40.00.10 -Dari serat tiruan :--Batik
 14. 6214.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 15. 6215.10.00.10 -Dari sutra atau sisa sutra :--Batik
 16. 6215.90.00.10 -Dari bahan tekstil lainnya :--Batik
 17. 6302.51.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari kapas :---Batik
 18. 6302.53.00.10 -Linen untuk meja, lainnya : --Dari serat buatan :----Batik
 19. 6302.59.00.10 --Dari serat tekstil lainnya :---Batik
 20. 6302.60.00.10 -Linen untuk toilet dan linen untuk dapur, dari terry towelling atau kain terry semacam itu, dari kapas :--Batik
 21. 6302.91.00.10 -Lain-lain : --Dari kapas :---Batik
 22. 6302.93.00.10 -Lain-lain : --Dari serat buatan :---Batik
 23. 6304.19.10.10 ---Dari kapas :----Batik
 24. 6304.19.20.10 ---Lain-lain, dari bukan tenunan :----Batik
 25. 6304.19.90.10 -Penutup tempat tidur : --Lain-lain :\ ---Lain-Lain :----Batik

Dihimpun dari berbagai Sumber Data :
http://pesonabatik.site40.net/index.html
http://batikeia3.site90.net/sejarah%20batik.html
http://listialova.wordpress.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
http://www.batikmarkets.com/batik.php
http://websisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/544
http://www.depperin.go.id/IND/Teknologi/standar/3.pdf
http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/21/nas07.htm
http://www.translationdirectory.com/glossaries/glossary098.htm
http://wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn?s=batik


 
Jaringan Data Spasial Daerah Kabupaten Pekalongan Bappeda PM Kabupaten Pekalongan Kajen

Pengunjung Online

Kami punya 72 tamu online
LPSE Kabupaten Pekalongan
RUP SKPD
Video Batik Kota Santri
Free Wifi Hotspot Pemkab Pekalongan
Perpustakaan Kab. Pekalongan
DPRD Kab.Pekalongan
Dinhubkominfo
Dinkes Kab.Pekalongan
Blog Daerah Kabupaten Pekalongan
RSUD Kraton
RSUD Kajen
Bank Kredit Kecamatan Kajen
Humas setda
Pantauan CCTV Perempatan Wiradesa
You are here: Home