BUDI DAYA SENGON UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT PEDESAAN (BAGIAN I)

Surel Cetak PDF
PENDAHULUAN

Tanaman sengon sudah tidak asing lagi bagi masyarakat pedesaan di wilayah Kabupaten Pekalongan. Bahkan tanaman tersebut  sekarang telah mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan karena kemampuan jual (nilai jual) kayunya sudah terbilang tidak murah lagi.

Harga pasaran kayu sengon per m3 (kubik) yang telah dipotong berdasar ukuran untuk bahan bangunan dipasaran sudah berkisar 2 juta -an rupiah, sedangkan yang masih dari kebun atau berbentuk log per m3 masih dibawahnya, namun tetap saja dari tahun ketahun harganya naik mengikuti harga lainnya. Harga ini tentu bervariatif antar tempat sesuai biaya tebang dan biaya angkut, serta jenis dan kualitas kayu sengonnya. Belum lagi log sengon yang dapat dijadikan bahan "pulp", ranting kayu untuk kayu bakar, dan daunnya untuk bahan pakan ternak (campuran pakan ternak), kompos (pupuk hijau daun) memiliki nilai ekonomis.

Jika merunut perjalanannya, kayu sengon pada masa dulu belum menjadi komoditas kehutanan yang potensial menghasilkan keuntungan. Bahkan kayu sengon belum banyak digunakan untuk bahan rumah/bangunan karena masyarakat golongan atas tertarik memakai kayu jati, kayu kalimantan, dan kalangan menengah bawah memilik kayu rimba campur (nangka, mahoni, wuru, duren, pinus, dsb), kayu glugu (kayu pohon kelapa), atau bambu. Seiring dengan pesatnya pembangunan perumahan dan banyaknya rumah bangunan permanen/semi permanen yang mebutuhkan kayu dalam jumlah banyak, maka nilai kayu merangkak tinggi. Di saat kayu-kayu kelas papan atas seperti kayu jati, kayu kalimantan, semakin mahal maka kayu-kayu rimba campur, salah satunya sengon mulai diminati untuk digunakan sebagai bahan bangunan.

Sudah tidak asing lagi sekarang masyarakat pedesaan sukses menjadi jutawan karena sengon. Padahal sewaktu sengon belum menjadi salah satu kayu yang diminati masyarakat, kayu sengon masih sekelas kayu bakar, sedikit yang memanfaatkan untuk bangunan. Pemerintah melalui program penghijauan telah memasukkan sengon sebagai salah satu tanaman untuk konservasi. Departemen Kehutanan melalui Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanahmelaksanakan  pemberian bantuan bibit sengon secara cuma-cuma dan bantuan biaya pemeliharaan kepada petani, budidaya sengon dikembangkan secara meluas. Kemudian di era otonomi kebijakan ini dilanjutkan oleh Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Pekalongan.

Saat ini bagi petani sengon sudah merasakan manfaatnya karena buah dari perjuangannya tidak sia-sia. Nilai kayu sengon semakin berkibar sebagai kayu yang memiliki permintaan pasar tinggi dan permintaan cenderung stabil untuk jangka waktu lama. Masyarakat sudah tidak malu lagi memakai kayu sengon untuk bahan bangunan konstruksi ringan, bahkan para pengembang perumahan rakyat (KPR BTN) di daerah telah memakai sengon untuk bahan bangunannya sejak 10 tahun yang lalu.

Sambil menunggu dapat dipanen saat telah berumur mulai 5 tahun s/d 9 tahun, petani dapat  menanam tanaman bawah tegakan selama belum siap panen. Dengan cara ini konservasi tanah tetap dapat terjaga dan ekonomi keluarga tetap terpenuhi.

TAKSONOMI DAN TATANAMA SENGON
Sengon memiliki nama latin Albasia falcataria (L). Termasuk dalam family Leguminosae, subfamily Mimosoidae atau keluarga petai-petaian. Sengon di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama lokal/daerah sengon (dikenal secara umum), jeungjing (Sunda), sengon laut (Jawa), sika (Maluku), tedehu pute (Sulawesi), bae, wahogon (Papua/Irian Jaya).

DESKRIPSI TANAMAN 
Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin, berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV - V.

Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau. Daun majemuk, panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 ? 15 pasang anak tangkai daun yang berisi 15 ? 25 helai daun. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. 

Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 ? 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.

Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, lurus dan tidak bersekat-sekat. Buah sengon waktu muda berwarna hijau, berubah kuning sampai coklat setelah masak, panjangnya sekitar 6 ? 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 ? 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin. Untuk benih sengon berbentuk pipih, lonjong, 3 ? 4 x 6 ? 7 mm, warna hijau, bagian tengah coklat. Jumlah benih sekitar 40.000 butir/kg dengan daya berkecambah rata-rata 80%. Berat 1.000 butir kurang lebih berkisar 16 ? 26 gram.


HABITAT SENGON
Sengon memiliki sebaran alami di Maluku, Papua Nugini, kep. Solomon dan Bismark. Banyak ditanam di daerah tropis. Merupakan species pionir, terutama terdapat di hutan hujan dataran rendah sekunder atau hutan pegunungan rendah.
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7. Sengon dapat tumbuh mulai dari pantai hingga pada lahan berketinggian 1.800 mdpl (0 s/d 1.800 m diatas permukaan laut). Ketinggian lahan yang optimum untuk tumbuh sengon 0 s/d 800 mdpl.
Tanaman ini dapat beradaptasi dengan iklim monsoon dan lembab dengan curah hujan 200-2700 mm/th dengan bulan kering sampai 4 bulan. Dapat ditanam pada lahan yang tidak subur tanpa dipupuk. Tidak tumbuh subur pada lahan berdrainase jelek. Termasuk species yang memerlukan cahaya dan tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ّ ? 27 ّC. Hal ini dikarenakan sengon merupakan jenis tanaman tropis. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%. Merupakan salah satu species paling cepat tumbuh di dunia, mampu tumbuh 8 m/tahun dalam tahun pertama penanaman.
 
KEGUNAAN TANAMAN SENGON
Sebagai salah satu tumbuhan yang dapat memperbaiki kesuburan lahan, sengon juga merupakan penghasil kayu yang produktif. Ketinggian pohon dapat mencapai 25-45 meter. Hingga berumur 5 tahun pertumbuhan tingginya mencapai  4 meter/tahun. Dapat ditebang setelah berumur 5-9 tahun. Potensi produksi kayunya sebesar 10-40 m3/hektar/tahun, atau 250m3 per hektar. Kayu sengon dapat dimanfatkan untuk kayu kontruksi/bangunan, peti kemas korek api, pulp, jointed board/wood working, sawmill, moulding, kerajinan tangan meubelair, kayu bakar dan arang.
Daunnya digunakan sebagai pakan ternak. Di Ambon kulit batang digunakan untuk penyamak jaring, kadangkadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.
Sifat pengerjaannya: Mudah digergaji, diserut, dipahat, dibor, diamplas, dan diplitur, serta tidak mudah pecah kalau dipaku.  Dari seluruh kegunaan tanaman sengon, batang kayunya inilah yang memiliki nilai kegunaan ekonomis tinggi.

Bersambung ...............(Bagian II)
Jaringan Data Spasial Daerah Kabupaten Pekalongan Bappeda PM Kabupaten Pekalongan Kajen

Pengunjung Online

Kami punya 90 tamu online
LPSE Kabupaten Pekalongan
RUP SKPD
Video Batik Kota Santri
Free Wifi Hotspot Pemkab Pekalongan
Perpustakaan Kab. Pekalongan
DPRD Kab.Pekalongan
Dinhubkominfo
Dinkes Kab.Pekalongan
Blog Daerah Kabupaten Pekalongan
RSUD Kraton
RSUD Kajen
Bank Kredit Kecamatan Kajen
Humas setda
Pantauan CCTV Perempatan Wiradesa
You are here: Home