GELAR KESENIAN DAERAH DAN MULUDAN BERLANGSUNG MERIAH

Surel Cetak PDF

Puncak gelar Kesenian Daerah dan Muludan 2007, dihadiri oleh ribuan warga masyarakat Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya. Emha Ainun Najib didampingi Novia Kolopaking, tampil dengan sajian musikal Islami Kyai Kanjeng dan Habib Lutfi berkesempatan untuk melantunkan lagu ciptaannya sendiri bertitel "Cinta Tanah Air" hingga mampu mempesona semua yang hadir malam itu.  Acara usai sekitar Pukul 24.00 WIB.


Kemeriahan pelaksanaan gelar kesenian daerah dan rangkaian acara Muludan Tahun 2007 Kabupaten Pekalongan sudah nampak sejak pada pagi Pk.08.00 WIB dengan penampilan semarak senam gembira yang diikuti sekitar 4.000 anak-anak TK/BA/RA di Alun-alun Kajen. Disusul dengan penampilan parade drumband oleh para pelajar SLTP. Orang tua murid / siswa dan masyarakat pun tumpah ruah di Alun-alun Kajen untuk ikut menyaksikan dan menikmati penampilan anak-anak mereka yang penuh keceriaan.

Meski sebelumnya Kajen diguyur hujan, pelaksanaan kirab Muludan 2007 yang memang baru pertama kalinya diadakan akhirnya dapat dilaksanakan meski mundur sedikit dari jadwal yang telah dipersiapkan. Setelah memberikan sambutan, Bupati Pekalongan Dra. Hj. Siti Qomariyah, MA beserta Suami, melepas peserta kirab, didampingi Wakil Bupati beserta Istri, Ketua DPRD, Unsur Muspida, dan diikuti oleh para pejabat Kepala Badan/Dinas/Kantor/Bagian se Kabupaten Pekalongan. 

Prosesi kirab diawali barisan kesenian kuda kepang dari Kecamatan Wonopringgo, diikuti barisan kesenian Kuntulan, kesenian rebana Ainama dari Kertijayan Buaran, Mas dan Mbak Kabupaten Pekalongan dan penari rebana santri yang menggunakan pakaian adat Jawa. Yang menarik dari kirab tersebut adalah penggunaan pakian adat Jawa santri pesisir untuk semua pejabat Pemkab Pekalongan, yakni mengenakan baju putih, celana hitam, dengan ikat kepala batik, sarung palekat yang dikalungkan dan sandal gapit.

Sebagai simbol prosesi, diusung tumpengan sebanyak 19 buah mewakili ciri khas masing-masing kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Iring-iringan tumpeng dari kecamatan dikawal oleh barisan para camat. Dibelakangnya usungan tumpeng nasi kuning "raksasa" dikawal oleh iring-iringan rombogan Bupati, DPRD, Muspida, pejabat eksekutif, dan ditutup dengan barisan ronce-ronce. Rute kirab yang diambil adalah mengitari alun-alun Kajen, dimulai dari halaman parkir rumah dinas Bupati Pekalongan, mengarah ke utara melewati depan Mapolres Kajen, berbelok kebarat melewati depan gedung DPRD, depan kantor Bupati, dan finish di halaman Masjid Al Muhtarom.

Semua tumpeng yang dikirab setelah didoakan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung yang memenuhi pelataran masjid. Selesai kirab diadakan pementasan kesenian kuda kepang dan atraksi akrobatik kuntulan di alun-alun Kajen.

Malam harinya, pentas kesenian daerah dan muludan diawali dengan tampilnya kesenian sintren yang sudah dikenal oleh masyarakat Kabupaten Pekalongan. Sementara itu di alun-laun Kajen, dihadirkan sepasang Gajah dari obyek wisata Linggoasri yang menghibur masyarakat dan siapapun dapat menunggang dengan didampingi sang pawang. Kemeriahan pedagang pasar tiban ikut meramaikan suasana yang malam itu cuacanya terang dan cukup sejuk.

Dalam sambutannya Bupati Pekalongan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak karena kegiatan ini dapat terselenggaran murni atas partisipasi masyarakat dan berdasarkan tugas fungsional yang ada pada masing-masing instansi, sehingga tidak dibiayai dari anggaran pemerintah secara tersendiri. " Kegiatan ini mengandung maksud adanya semangat kebersamaan, semangat mencintai budaya, dan semangat mencintai Rasululallah", demikian ujar Bupati. Menurut Bupati demokrasi tidak hanya dibidang politik saja, melainkan juga dibidang kesenian. Kekayaan budaya dan sosial yang ada di Kabupaten Pekalongan belum semuanya dikenal baik oleh warga masyarakat Pekalongan sendiri, maka perlu adanya wadah untuk menampilkan berbagai kekayaan dan keragaman budaya seperti pada event gelar kesenian daerah ini. "Kesenian perlu ditumbuhkan, tidak hanya dikenali dan dihargai. Seni harus dapat diterima oleh kemajuan pertumbuhan jaman. Keterpaduan berbagai kesenian daerah yang dipadukan dalam konteks seni yang berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan akan membawa hikmah bagi kita semua", tandas Bupati. Menurut Bupati, seni bukan merupakan hal yang pasif, melainkan dinamis, sehingga perlu digali potensi seni yang ada, ditumbuhkan sesuai dengan kondisi sosial lingkungannya masing-masing.

Pada akhir sambutannya Bupati berharap, agar agenda kegiatan Muludan ini dapat menjadi agenda tetap tahunan sebagaimana  halnya kegiatan peringatan hari jadi Kabupaten Pekalongan. Selanjutnya Bupati berpesan agar menjelang dan pasca pilkades di Kabupaten Pekalongan yang akan dilaksanakan pada Mei dan Juli 2007 dapat berjalan benar, aman, lancar dan tercipta iklim yang sejuk. " Hendaknya tidak  ada yang memaksakan pendapat, perubahan-perubahan dilakukan dengan cara dialog dan bukan dengan kekerasan, karena negara kita menjunjung tinggi supremasi hukum", tandas Bupati. 

Emha Ainun Najib tampil beserta istrinya, Novia Kolopaking, dan personil Kyai Kanjeng. Masyarakat yang sejak sore hari menunggu sudah tumpah ruah memadati tempat pagelaran di Jalan Raya Mandurorejo lingkungan Alun-alun Kajen dan Masjid Al Muhtarom. Emha dan Novia tampil sangat komunikatif dan interaktif memukau para penonton karena mengajak langsung hadirin untuk terlibat bernyanyi dan berdoa dalam lantunan sholawat. Disela-sela lantunan lagu-lagu diselipkan beberapa dakwah dan humor-humor segar untuk mengajak masyarakat Pekalongan semakin mencintai Rasulullah dan taat pada Sang Pencipta.

Dalam kesempatan itu diparoh acara, ditampilkan seni rebana dari grup "Ainama" Kertijayan Kecamatan Buaran. Emha dengan lihai memadukan tampilan rebana Ainama dengan improvisasi Kyai Kanjeng. Improvisasi musik Kyai Kanjeng yang memadukan alunan musik gamelan "jawa pesisiran", musik rebana, musik padang pasir, musik langgam, genre musik pop, dangdut dan lainnya membuat hadirin sangat terhibur menikmati sajian demi sajian. 

Diakhir pentas, setelah Emha mendengar sendiri harapan dari para hadirin, Emha berharap agenda Muludan ini dapat ditetapkan sebagai agenda rutin untuk setiap tahunnya siapapun Bupatinya dan bila diundang hadir tampil kembali di Kabupaten Pekalongan tentu dengan senang hati akan hadir bertemu dengan masyarakat Kabupaten Pekalongan. Kerinduan Emha ini karena pengunjung seakan tak mau beranjak pulang, bahkan Emha didaulat untuk menampilkan lagu "tombo ati" dan "ilir-ilir". "Aku ora tega, ning kepiye maneh wong sesuk-esuk kudu menyang Yogja, banjur sorene budhal Jakarta. Pengine iso nganti jam 3 esuk dadi kabeh luwih marem. (Red : Saya tidak tega, namun bagaimana lagi karena besok pagi harus ke Yogyakarta, sorenya ke Jakarta. Inginnya sampe jam 3 pagi, biar semua puas)", kata Emha dalam dialek Jawa.  Emha pun lalu melantunkan "tombo ati" dan "ilir-ilir" dalam berbagai warna musik dan versi ragam bahasa.

Sajian malam itu ditutup dengan penampilan Habib Lutfi yang tampil lebih santai lain dari biasanya, melantunkan sekaligus mengiringi lagu ciptaannya sendiri "Cinta Tanah Air". Dengan lihai Habib Lutfi memainkan keyboard.  Secara singkat Habib Lutfi juga menyampaikan tausiah yang dikemas dengan humor-humor segar. Acara ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh Habib Lutfi. (Eka"eip"-Kapeditel).
 

Jaringan Data Spasial Daerah Kabupaten Pekalongan Bappeda PM Kabupaten Pekalongan Kajen

Pengunjung Online

Kami punya 61 tamu online
LPSE Kabupaten Pekalongan
RUP SKPD
Video Batik Kota Santri
Free Wifi Hotspot Pemkab Pekalongan
Perpustakaan Kab. Pekalongan
DPRD Kab.Pekalongan
Dinhubkominfo
Dinkes Kab.Pekalongan
Blog Daerah Kabupaten Pekalongan
RSUD Kraton
RSUD Kajen
Bank Kredit Kecamatan Kajen
Humas setda
Pantauan CCTV Perempatan Wiradesa
You are here: Home