BUPATI JADI PEMBEDAH UTAMA BUKU “BU LURAH”

bedah buku-1
-
KAJEN – Jumat (12/5) malam, Bupati Pekalongan H. Asip Kholbihi, SH, M.Si., menjadi pembedah utama dalam Bedah Buku "Bu Lurah" Karya Eddy H. Rachman. Didampingi narasumber lain seperti Fajar Randi Yogananda, SE (Wakil ketua DPD KNPI Jawa Tengah) dan Dr. Mustoffa Basyir, MA (LPPM IAIN Pekalongan). Dipandu oleh Melita Hasan, SH (Duta Wisata Kabupaten Tegal tahun 2015), kegiatan digelar di Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus Wilayah VI (Eks Gedung Karesidenan Jetayu) Jl. Diponegoro Nomor 1 Kota Pekalongan.

Disimpulkan dalam bukunya, Bu Lurah (sebuah novel biografi) berkisah seorang perempuan yang menjadi Lurah di ‘negeri atas awan’ Dieng. Seseorang wanita bernama Hj. Eriyah dari sebuah desa bernama Kaliboja di Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Bu Lurah berhasil membawa Kaliboja, dari sebuah desa tertinggal menjadi desa yang berprestasi nasional dan internasional. 23 tahun kiprahnya sebagai Lurah, memberantas buta aksara di Desa Kaliboja. Tahun 1984 Bu Lurah menjadi wanita pertama peraih penghargaan Kalpataru atas jasanya dalam penyelamatan lingkungan hidup, dan tahun 1987 menerima penghargaan International Literacy Price ‘Nadezda K Krupkaia’ dari UNESCO di Paris sebuah penghargaan untuk jasanya dalam memberantas buta aksara.
Bupati dalam sambutan menyampaikan bahwa penulis Buku “Bu Lurah” Eddy H. Rachman adalah saudaranya. Diceritakan, Bu Lurah itu berdomisili di Desa Kaliboja Kecamatan Paninggaran yang berbatasan langsung dengan Desa Kalibening Kecamatan Banjarnegara. “Kebetulan ayah saya seorang pejuang Hisbullah yang asli Pekalongan mengungsi ke Kalibening. Karena Desa Kaliboja dan Kalibening itu dekat, ayah saya inilah yang membina kehidupan rohani Bu Lurah dan seluruh warga Desa Kaliboja,” tuturnya.
Lebih lanjut, Bupati menyatakan bahwa semasa saya kecil, sekitar tahun 70an, dari SD sampai SMP ia sudah berkawan baik dengan kakak-kakaknya mas Eddy. Katanya, ia sering ke rumah Bu Lurah sehingga ia tahu persis tentang kiprah dan talenta Bu Lurah untuk menjadi tokoh wanita yang saat itu patut diperhitungkan.
“Hal yang sangat menginsiparasi bagi kita semua sebagai generasi muda, tokoh itu tidak harus berpendidikan tinggi, tidak harus dari keluarga aria (bangsawan), dan tidak harus dari kota. Kalau kita lihat setting Desa Kaliboja tahun 70an itu sangat ndeso. Tetapi mengapa dapat melahirkan tokoh sehebat Bu Lurah? Karena menurut pengamatan saya, beliau itu orangnya jujur, ulet, dan menghormati gurunya seperti ayah saya,” terang Bupati.
 
Jadi, kata Bupati, tidak heran kalau suatu ketika kita bisa melakukan hal yang sama apa yang dilakukan Bu Lurah, maka kita bisa juga menjadi seorang tokoh. “Dan ternyata syaratnya sederhana untuk menjadi seorang tokoh yaitu jujur, menghormati orang tua, menghormati guru, menghormati senior, kerja keras, dan yang paling penting adalah menjaga nilai moral/ etika yang ada di Desa tempat kita tinggal dimana kearifan lokal mesti kita junjung,” imbuhnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Anda disini: Home Informasi Berita Berita Lokal BUPATI JADI PEMBEDAH UTAMA BUKU “BU LURAH”