
Pada Juni 2010, Rensselaer Polytechnic Institute di New York telah mempublikasikan dalam Jurnal Nanoscience and Nanotechnology Vol. 10, 5507–5519, 2010, tentang penelitian Electrodes of Li-ion Batteries berbahan nanomaterial (material berdasarkan bahan dimensi lebih kecil dari sepersepuluh mikrometer).
Oleh leavingleaf.info digambarkan bahwa skala kecil ultra nanomaterial ini menjadi cikal bakal baterai nano sebagai generasi masa depan baterai lithium ion yang akan mampu mengisi 40 sampai 60 kali lebih cepat dibandingkan kemampuan baterai dengan teknologi saat ini. Dengan kemampuannya ini akan memperlambat siklus charge / discharge, tekanan internal berkurang dan umur baterai tidak dikorbankan.
Penelitian lain tentang baterai masa depan dilakukan oleh tim ilmuwan dan peneliti Dr. Harold Kung dari Universitas Northwestern Amerika Serikat, yang baru-baru ini diberitakan BBC, telah menemukan terobosan teknologi sehingga memungkinkan baterai ponsel dan laptop dapat dengan cepat diisi ulang hingga sepuluh kali lebih cepat dan mampu menyimpan sepuluh kali lebih besar dibanding dengan teknologi yang sekarang berlaku.
Dalam jurnal penelitiannya, Dr. Harold Kung mengatakan bahwa kemampuan yang dimiliki baterai masa depan ini dapat diwujudkan karena mereka telah menemukan cara untuk menjejalkan lebih banyak ion dengan memperbanyak lubang-lubang kecil hingga jumlahnya mencapai jutaan. Mereka telah mengubah bahan material baterai lithium-ion untuk meningkatkan kemampuan dan mempercepat gerakan ion.
Mengubah kepadatan dan pergerakan ion-ion lithium merupakan kuncinya, sehingga proses pengisian lebih cepat 10 kali lipat dan mampu bertahan 10 kali lipat. Kecepatan pengisian telah dipercepat menggunakan proses kimia oksidasi melalui lubang kecil yang lebarnya hanya 20-40 nanometer pada lembaran grafin. Lubang kecil yang demikian ini membantu ion lithium bergerak dan mencari tempat untuk disimpan jauh lebih cepat.
Dengan perkayasaaan ini maka baterai dapat disi penuh hanya dalam waktu 15 menit dan mampu bertahan untuk digunakan hingga satu minggu sebelum perlu diisi ulang kembali.
Selain keunggulan yang dimiliki, baterai ini memiliki kelemahan yakni apabila telah 150 kali diisi ulang maka kecepatan pengisian dan daya tahannya akan menurun tajam. Namun menurut prof. Harold Kung selaku ketua tim peneliti menyatakan bahwa meski telah diisi ulang 150 kali atau dioperasikan lebih dari setahun, baterai ini masih lima kali lebih efektif daripada baterai lithium-ion yang ada di pasaran saat ini. Sampai ini tim peneliti telah berkonsentrasi untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut temuannya tersebut.
Baterai yang dibuat menggunakan teknik baru ini oleh para ilmuwan diperkirakan baru dapat mulai dipasarkan di toko-toko pada kisaran waktu lima tahun mendatang.
Sumber :
http://livingleaf.info/2011/01/nonotechnology-offers-shorter-electric-car-battery-charge-time/
http://www.bbc.co.uk/news/technology-15735478
http://www-heparin.rpi.edu/main/files/papers/499JNN10%20copy.pdf
Ilustrasi Foto :
livingleaf.info dan google.co.id






















