Menguak Potensi Ekonomi Cocopillow "Bantal Sabut Kelapa"

Surel Cetak PDF
bantal_sabut_kelapaSerabut kelapa pada sebagian masyarakat biasanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuat sapu dan keset. Bagi sebagian orang, serabut kelapa jelas tidak terlalu bermanfaat. Serabut kelapa sering dibuang dan dibakar di tempat sampah atau ditumpuk di belakang rumah. Namun demikian, ditangan mahasiswa jurusan teknik mesin dan industri UGM, serabut kelapa yang tidak berguna tersebut dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan bantal yang mereka namakan cocopillow. Bentuk bantalnya pun cukup unik, selain awet dan tahan lama, bantal dari bahan serabut kelapa ini memberikan aroma harum kelapa., serabut kelapa diolah menjadi bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi.

Adalah Agustina P.R.M., Ismianti, Ahmad Juwari, Ari Akbar D., dan Wibowo Prasetyo, mahasiswa UGM yang menggagas pemanfaatan serabut kelapa menjadi bahan pengganti kapas untuk bantal. Kelima mahasiswa yang didampingi oleh dosen pembimbing, Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., memanfaatkan serabut kelapa sebagai bahan pembuat bantal karena di wilayah Kulon Progo cukup melimpah serabut tersebut dan belum dimanfaatkan secara optimal. Berkat produk cocopillow ini mampu menghantarkan Ismiati, Annisa Dewi Akbari dan Irfan Anshori meriah juara I make and sell competition di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya 25-27 februari lalu. Tim Coco UGM berhasil menyisihkan 83 peserta dari bebragai puluhan perguruan tinggi. Kompetisi make and sell competition merupakan ajang kompetisi business plan yang menekankan kreativitas untuk menciptakan produk dengan inovasi terbaru yang peduli dengan lingkungan 

Ide awal pembuatan cocopillow didapat setelah Irfan menengok banyaknya sampah serabut kelapa yang dibuang dan dijual dengan harga murah oleh para penduduk pengrajin Natadecoco di daerah Kretek, Bantul, dan Samigaluh, Kulon Progo. Ia menyebutkan di daerah Bantul, produksi serabut kelapa mencapai 24 ribu ton setahun, sedangkan di Kulon Progo mencapai 24 ribu ton per tahun.

Sebenarnya serbuk serabut kelapa sudah diekspor ke Korea dan Jepang untuk bahan membuat alas bagi laptop dan notebook. Setelah serbuknya diambil, serabut kelapa tidak dimanfaatkan. Kecuali bagi yang kreatif dibuat keset.  Melihat kondisi ini, Irfan bersama rekan-rekannya memutar otak memanfaatkan serabut kelapa sebagai bahan bantal. “Untuk satu bantal diperlukan 10 buah serabut kelapa,” kata Ismiati.

Cara pembuatannya pun cukup sederhana. Serabut kelapa yang sudah dibersihkan tersebut dikeringkan selama 3 hari. Kemudian direkat dengan menggunakan lem latex. Setelah terbentuk model bantak yang diingin, serabut tersebut dikeringkan kembali akan mendapatkan aroma kelapa yang wangi. Bantal tersebut dijual dengan harga Rp 39 ribu. Namun belum diproduksi secara massal. Bila sudah diproduksi, kata Ismiati, paling tidak akan mengangkat harga serabut kelapa yang selama ini sangat bernilai ekonomis rendah.

Ismiati menyebutkan, bantal cocopillow ini lebih awet dari bantal yang ada pada umumnya. Selain elastis, keunggulan cocopillow terletak pada desain bentuk bantal yang menyesuaikan dengan lekukan tulang belakang. Sehingga saat digunakan memberikan rasa nyaman dan tidak sakit. “Bentuk bantalnya ada lekukan di tengah sehingga nyaman saat digunakan,” katanya.

Menurut Subejo, proses pembuatan bantal berbahan serabut kelapa sangat sederhana. Pada tahap awal, cukup dilakukan penyemprotan agar serabut dapat direkatkan satu dengan yang lain. Setelah itu, serabut yang telah direkatkan dibentuk sesuai dengan yang diinginkan. "Untuk bentuk dan ukuran ini bisa dibuat sesuai keinginan, bebas saja dan tidak menutup kemungkinan dibentuk sesuai kebutuhan masyarakat," ujar dosen Fakultas Pertanian UGM ini, Selasa (1/5).

Sejauh ini, warga Dusun Sungapan, Galur, Kulon Progo, terutama ibu-ibu PKK, menyambut baik ajakan Tim PKM M UGM. Mereka berharap program akan terus berlanjut. Ismianti, mahasiswa Fakultas Teknik UGM, mengaku gembira melihat respon masyarakat terhadap program ini. Masyarakat Dusun Sungapan terlihat antusias dalam mengembangkan program pembuatan bantal berbahan serabut kelapa."Sepertinya mereka berharap agar desa mereka dapat menjadi pusat pengolahan limbah serabut kelapa karena mereka sudah tahu hasil dari pengolahan serabut kelapa ini mampu meningkatkan pendapatan mereka," terang Ismianti.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga memberikan respon yang sama. Bahkan pada tanggal 29 April 2012, di Desa Tirtorahayu, Kecamatan Galur, Kulon Progo, telah dilakukan launching produk hasil praktik pengembangan olahan limbah kelapa oleh kelompok ibu-ibu anggota PKK. Kegiatan yang dihadiri oleh Asekda Bidang Perekonomian dan Staf Ahli Bupati Kulon Progo ini menampilkan berbagai varian bantal.

Sumber :
http://pslh.ugm.ac.id
http://www.ristek.go.id


Sumber: Humas UGM

You are here: Fasilitas Web Artikel Ekonomi Menguak Potensi Ekonomi Cocopillow "Bantal Sabut Kelapa"